Perang dan Perebutan Tahta Kekuasaan Raja-Raja Jawa

MENCERMATI perang saudara di lingkup kerajaan Jawa sejak Singhasari pada era pemerintahan Kertanagara hingga Kasunanan Surakarta pada era pemerintahan Sunan Pakubuwana III cukup menarik. Beberapa hal yang paling menarik untuk dikemukakan bahwa perang saudara di lingkup kerajaan-kerajaan di Jawa itu karena faktor politik yang berkaitan dengan perebutan atau keinginan untuk mendapatkan tahta kekuasaan, balas dendam, legitimasi pewaris tahta kerajaan, atau upaya untuk mendapatkan wilayah kekuasaan.

Perebutan Tahta Kekuasaan

Menjelang runtuhnya Singhasari, Kertanagara ingin memerluas wilayah kekuasaannya sampai luar Pulau Jawa. Melaui Ekspedisi Pamalayu, Kertanagara ingin menguasai wilayah-wilaya di Pulau Sumatera. Namun melalui ekspedisi yang tidak memertimbangkan keamanan di dalam negeri itu, justru Singhasari mengalami keruntuhannya akibat pemberontakan Jajakatwang. Adipati Gelanggelang yang masih saudara sepupu, saudara ipar, atau besan.

Motivasi pemberontakan Jayakatwang yang dihasut oleh Aria Wiraraja (adipati Sumeneb) yakni ingin merebut tahta kekuasaan Singhasari. Akibat pemberontakan itu, Kertanagara tewas dan sejarah Singhasari pun berakhir. Mengingat sesudah menjadi raja, Jayakatwang memindahkan ibukota Singhasari ke Dhaha. Suatu wilayah di Kadiri.

Sesudah menjadi raja, Jayakatwang diturunkan oleh Dyah Wijaya (menantu Kertanagara) melalui pasukan Tartar atau Mongolia yang ingin berbalas dendam pada Kertanagara. Turunnya Jayakatwang dari tahta kekuasaannya, maka Dyah Wijaya yang ingin menjadi raja tanpa bayang-bayang Dhaha itu dapat merealisasikan cita-citanya. Arkian, berdirilah Kerajaan Majapahit.

Pada era Majapahit, perebutan kekuasaan yang berkedok pemberontakan yakni dilakukan oleh Ra Kuti terhadap pemerintahan Jayangara, Dyah Kertawardhana terhadap Dyah Kertawijaya, Dyah Kertabhumi terhadap Dyah Suprabhawa, Girindrawardhana Dyah Ranawijaya terhadap Dyah Kertabhumi.

Perebutan tahta kekuasaan kembali terjadi semasa pemerintahan Arya Pangiri di Kesultanan Pajang. Arya Pangiri (menantu Sultan Hadiwijaya) turun tahta dan kembali ke Demak sesudah diserang Pangeran Banawa (putra Sultan Hadiwijaya) dan Panembahan Senapati (Mataram).

Di masa pemerintahan Sunan Amangkurat II (Kasunanan Kartasura) pula terjadi perebutan kekuasaan yang berkedok pemberontakan. Akan tetapi, pemberontakan Pangeran Puger itu tidak membawa hasil. Bahkan Pangeran Puger kemudian menjadi bawahan Sunan Amangkurat II.

Akan tetapi, pemberontakan Pangeran Puger untuk mendapatkan kekuasaan Kartasura berhasil semasa pemerintahan Sunan Amangkurat III. Dengan mendapatkan dukungan Kumpeni dan Arya Mataram, Pangeran Puger mampu menguasai Kartasura. Ketika menjadi raja, Pangeran Puger dikenal dengan Sunan Pakubuwana I.

Balas Dendam

Perang saudara dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa terjadi semasa pemerintahan Dyah Kertabhumi di Majapahit. Karena Dyah Kertabhumi mampu menjadi raja sesudah berhasil melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Dyah Suprabhawa, maka Girindrawardhana Dyah Ranawijaya putranya berbalas dendam. Melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Dyah Kertabhumi. Sesudah pemberontakannya berhasil, Girindryawardhana Dyah Ranawijaya memindahkan ibukota Majapahit dari Majakerta ke Dhaha (Kadiri).

Balas dendam yang memicu timbulnya perang saudara pula dilakukan Arya Penangsang (kadipaten Jipang Panolan) terhadap Sunan Prawata (Kesultanan Demak). Arya Penangsang berhasil membunuh Sunan Prawata melalui Rangkut abdinya, karena raja Demak itu semula sebagai dalang atas terbunuhnya Raden Kikin (Pangeran Seda Lepen) ayanya. Sesudah berhasil membunuh Sunan Prawata, Arya Penangsang menjabat sebagai raja Demak dengan ibukota di Jipang Panolan.

Peristiwa terbunuhnya Sunan Prawata di tangan Rangkut dan Pangeran Kalinyamat di tangan Arya Penangsang memicu dendam Ratu Kalinyamat terhadap penguasa Jipang Panolan itu. Berkat dendam Ratu itulah, Sultan Hadiwijaya yang menyanggupi permintaan Ratu Kalinyamat mengumumkan sayembara bahwa siapapun dapat membunuh Arya Penangsang akan mendapat hadiah tanah Mentaok dan Pati.

Dengan berhasilnya mengikuti sayembara dari Sultan Hadiwijaya itu, Panjawi dan Pemanahan yang telah membunuh Arya Penangsang di Bengawan sore mendapat hadiah. Panjawi mendapat hadiah tanah Pati. Pemanahan mendapat hadiah tanah Mentaok (Mataram).

Legitimasi sebagai Pewaris Tahta

Akhir pemerintahan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya – raja Majapahit dengan ibukota Dhaha – dikarenakan serangan Raden Patah (putra Bhre Kertabhumi) dari Kesultanan Demak Bintara. Muncul suatu teori bahwa serangan Raden Patah terhadap Girindrawardhana Dyah Ranawijaya untuk mendapatkan legitimasi sebagai pewaris tahta Majapahit.

Pada dasarnya perang saudara di Majapahit karena dipicu untuk mendapatkan legitimasi sebagai pewaris tahta telah terjadi pada era Perang Paregreg antara Wikramawardhana (Majapahit Barat) dan Bhre Wirabhumi (Majapahit Timur). Pemberontakan yang dilakukan Kertawardhana terhadap kekuasaan Dyah Kertawijaya, Dyah Kertabhumi terhadap kekuasaan Dyah Suprabhawa, Girindrawardhana Dyah Ranawijaya terhadap kekuasaan Dyah Kertabhumi pula mencerminkan upaya untuk mendapatkan legitimasi sebagai pewaris tahta Majapahit.

Apa yang dilakukan Raden Patah dan raja-raja Majapahit di muka tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Pangeran Banawa (putra Sultan Hadiwijaya dari Pajang). Pangeran Banawa yang mendapatkan dukungan Panembahan Senapati untuk melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Arya Pangiri (raja Pajang kedua) karena merasa lebih berhak sebagai pewaris tahta Pajang. Mengingat Arya Pangiri hanya menantu Sultan Hadiwijaya.

Di dalam sejarah Kasunanan Kartasura pula mencatat bahwa pemberontakan Pangeran Puger terhadap kekuasaan Sunan Amangkurat II dan Sunan Amangkurat III dimaknai sebagai upaya untuk mendapatkan legitimasi sebagai raja di tanah Jawa dari keturunan raja-raja Mataram.

Catatan Akhir

Dari catatan di muka bisa disimpulkan bahwa perang saudara di lingkup kerajaan-kerajaan di Jawa sebelum runtuhnya Singhasari hingga Perjanjian Salatiga pada era pemerintahan Sunan Pakubuwana III di Kasunanan Kartasura dikarenakan faktor politis yang berkaitan dengan tahta dan wilayah kekuasaan. Dengan demikian sejarah raja-raja di Jawa tidak bisa dilepaskan dengan unsur politik. Keduanya serupa sepasang mata uang yang tidak bisa dilepaskan antara satu dengan lainnya.

Tidak salah bila banyak orang menyebutkan bahwa untuk belajar politik praktis harus memelajari sejarah. Namun buku ini tidak ditujukan sebagai bacaan untuk memelajari politik praktis melalui sejarah, melainkan sekadar memberikan gambaran bahwa politik praktis dalam ranah kekuasaan senantiasa mengkhalalkan segala cara. Bila akal tidak mumpuni di dalam memeroleh kekuasaan, maka okol (perang) yang harus ditempuh.

Dengan membaca buku ini, kita pun menjadi semakin paham bahwa politik kekuasaan yang digunakan para praktisinya pada era sekarang tidak jauh berbeda dengan politik kekuasaan dari para pendahulunya. Di mana politik cenderung digunakan sebagai senjata untuk membunuh lawan ketimbang sebagai penyelamat umat manusia. Inilah potret buram kehidupan politik yang berkembang di dalam kehidupan manusia di muka bumi. [Sri Wintala Achmad]

https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5d8047b1097f367fef18af32/perang-dan-perebutan-tahta-kekuasaan-raja-raja-jawa

HITAM PUTIH MAHAPATIH GAJAH MADA

BERDASARKAN Serat Pararaton, Jayanagara yang dikenal dengan nama Raden Kalagemet merupakan putra Dyah Wijaya dan Dara Petak dari Negeri Dharmasraya (Sumatera). Ketika menjadi raja Majapahit, Jayanagara tidak memiliki putra. Karena khawatir tahta akan jatuh di luar keturunannya, Jayanagara melarang kedua adik tirinya yakni Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat untuk menikah dengan ksatria lain. Sebaliknya, Jayanagara ingin menikahi kedua adik tirinya tersebut.

Kabar perihal Jayanagara yang ingin menikahi Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat itu disampaikan oleh Ra Tanca pada Gajah Mada. Selain itu, Ra Tanca pula menceritakan bahwa Jayanagara pula telah mengganggu istrinya. Namun dengan sikap dinginnya, Gajah Mada tidak memedulikan laporan Ra Tanca.

Suatu hari, Ra Tanca yang merupakan tabib istana itu dipanggil masuk ke istana oleh Gajah Mada untuk mengobati sakit bisul Jayanagara. Pada waktu itu, Ra Tanca berhasil membunuh Jayanagara di tempat tidur dengan ditusuk taji beracun. Gajah Mada yang mengetahui praktik pembunuhan Jayanagara tersebut bergegas menikam Ra Tanca. Peristiwa berdarah yang menimpa Jayanagara dan Ra Tanca di istana Majapahit tersebut terjadi pada tahun 1328.

Di kalangan para sejarawan, wafatnya Jayanagara di tangan tabib Ra Tanca menimbulkan pertanyaan. Benarkah Ra Tanca membunuh Jayanagara hanya karena raja Majapahit tersebut telah mengganggu istrinya? Benarkah Ra Tanca membunuh Jayanagara karena semula turut mendukung pemberontakan Ra Kuti dari balik layar? Benarkah Ra Tanca membunuh Jayanagara karena inisiasinya sendiri? Dari ketiga pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang berdasarkan suatu analisa logis dan obyektif. Selanjutnya….

 

Pemesanan Buku:
CP: 0878-2387-8303 (Admin)
Transfer: BCA No. Rekening 4451337577 a.n. Teguh Winarso AS.

Resensi: Ledhek dari Blora


Judul : Ledhek dari Blora
Pengarang : Budi Sardjono
Penerbit : Araska
Tebal : 250 halaman
Tahun : 2018, Februari

Blora terkenal sebagai tempat kelahiran sastrawan Indonesia terkemuka yang menulis antara lain kumpulan cerpen “Cerita dari Blora”, selain sebagai penghasil kayu jati bermutu tinggi dan minyak mentah, serta kuliner sate Blora. Namun mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Blora juga terkenal dengan seni tayub beserta para ledheknya yang memikat. Sebagaimana diketahui, tayub adalah kesenian rakyat dimana penayub laki-laki memberikan uang kepada penari tayub yang disebut ledhek atau ronggeng pada saat menari.

Novel ini menceritakan kisah Sam, seorang wartawan yang kehilangan pekerjaan karena majalah tempatnya bekerja bangkrut akibat kalah bersaing dengan media online. Kesulitan ekonomi kemudian membuatnya terpaksa menanggalkan idealismenya, sehingga ia menerima tawaran teman lamanya sesama mantan wartawan untuk menjadi ghost writer, yaitu menulis biografi seseorang dengan isi sesuai kehendak pemesan dan namanya tidak akan dicantumkan dalam buku sebagai penulis, karena si pemesan seolah menjadi penulis biografinya sendiri.
Sesuai saran teman lamanya, maka Sam akan menulis biografi seorang pengusaha kaya. Namun sebelum memulai penulisan, sang pengusaha memintanya untuk terlebih dahulu melakukan investigasi ke Blora, untuk melacak keberadaan seorang bekas ledhek bernama Sriyati.
Tugas mencari jejak Sriyati ke Blora ternyata tidak mudah, karena dalam investigasinya Sam ternyata mengalami penculikan dan hampir dibunuh di tengah hutan jati, yang membuat Sam bertanya-tanya. Apakah hubungan antara bahaya yang dialaminya dengan tugas mencari ledhek? Apakah ada hal lain yang ditakutkan oleh mereka yang ingin membunuhnya? Siapakah sebenarnya Sriyati?

Kisah di atas disampaikan oleh pengarang dengan bahasa yang ringan dan mengalir serta sedikit humor, sehingga mudah dibaca. Tidak mengherankan karena ternyata penulisnya adalah pengarang senior yang telah menerbitkan beberapa kumpulan cerpen dan novel, antara lain Api Merapi, Roro Jonggrang, dan Nyai Gowok.

Membaca novel ini terasa ringan dan menghibur karena – seperti novel pop – berakhir dengan happy ending dan terdapat beberapa kejadian kebetulan, namun demikian pembaca mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dan kondisi wilayah Blora dan sekitarnya, kesenian tayub, sepenggal sejarah kelam Indonesia, dan kondisi kehidupan masa kini, sehingga Ledhek dari Blora menjadi novel yang cukup menarik.

Tidak seperti novel Ronggeng Dukuh Paruh yang mencekam, Ledhek dari Blora memberi gambaran mengenai upaya masyarakat lokal mempertahankan seni tradisi yang nyaris hilang ditengah desakan modernisasi dan stigma buruk dari masa lalu yang selalu mengaitkan kesenian rakyat dengan gerakan kiri, serta desakan konservatisme masa kini yang mengatasnamakan moralitas. Hal itu tampak antara lain dari tokoh Mbah Mantan Lurah yang berani mengadakan pertunjukan tayub meski sering mendapat ancaman pelarangan, dan para ledhek yang digambarkan sebagai perempuan-perempuan mandiri yang berani berbeda dari perempuan pada umumnya. Ada nuansa feminis dan liberal dalam buku ini. [Rati]

Pusat Pemerintahan Sriwijaya dalam Polemik para Sejarawan


Kerajaan terbesar di wilayah Nusantara yang berada di Pulau Sumatera adalah Sriwijaya (Srivijaya, Siwichai, Shi-li-fo-shih, atau San-fo-tsi). Suatu kerajaan maritim dan sekaligus sebagai kerajaan Buddha terbesar di Asia Tenggara yang mengalami perpindahan ibu kota sebanyak empat kali sebelum masa kehancurannya karena serangan Rajendra Chola dari Kerajaan Chola (India).

Awal mula, Sriwijaya yang menurut sebagian sejarawan beribukota di Minanga Tamwan (Riau daratan), kemudian berlanjut ke Muoro Jambi, Palembang, Medang (Jawa), kembali ke Palembang, dan Kadaram (Kedah). Namun urutan ibu kota Sriwijaya tersebut pernah memicu perdebatan dan polemik di antara para sejarawan.

Pusat Pemerinthan
Karena nama Sriwijaya mulai dikenal pada tahun 1920, maka fakta sejarah kerajaan tersebut masih dalam polemik di antara para sejarawan. Perdebatan yang sangat menonjol di antara para sejarawan menyoal ibu kota pertama Sriwijaya ketika didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa (prasasti Kedukan Bukit, 605 Saka atau 683 M).

Teori Palembang yang diajukan oleh Coedes dan mendapat dukungan Pierre-Yves Manguin menyebutkan bahwa ibu kota pertama Sriwijaya terletak di tepi Sungai Musi. Berdasarkan hasil observasinya, Coedes menegaskan bahwa ibu kota Sriwijaya berada di sungai Musi antara bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di Sumatera Selatan sekarang), tepatnya di sekitar situs Karanganyar yang sekarang dijadikan Taman Purbakala Sriwijaya.

Pendapat Coedes di muka berdasarkan foto udara (1984) yang menunjukkan bahwa situs Karanganyar menampilkan bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan manusia yang disusun rapi.

Bangunan air tersebut terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang, serta jaringan kanal dengan luas areal meliputi 20 hektar. Di kawasan tersebut ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan pernah dijadikan pusat permukiman dan pusat aktivitas manusia.

Sementara, Soekmono berpendapat bahwa ibu kota pertama Sriwijaya terletak di kawasan sehiliran Batang Hari antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi (sekarang Jambi), dengan catatan Malayu tidak berada di kawasan tersebut. Jika Malayu berada di kawasan tersebut, Soekmono cenderung sependapat dengan teori Moens.

Di mana letak ibu kota pertama Sriwijaya berada pada kawasan candi Muara Takus (Riau) dengan asumsi petunjuk arah perjalanan dalam catatan I-tsing dan berkaitan dengan berita pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa) kepada kaisar Cina.

Teori Moens di muka mendapat dukungan Poerbatjaraka yang menyatakan bahwa Minanga Tamwan disamakan dengan daerah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri, Riau, tempat di mana candi Muara Takus berdiri.

Lebih jauh Poerbatjaraka menyatakan bahwa kata “tamwan” berasal dari kata “temu”, lalu ditafsirkannya “daerah tempat sungai bertemu”. Namun yang pasti semasa penaklukan Sriwijaya oleh Rajendra Chola I, berdasarkan prasasti Tanjore, kerajaan tersebut beribukota di Kadaram (Kedah sekarang).

Pada tahun 2013, penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Universitas Indonesia menemukan beberapa situs keagamaan dan tempat tinggal di Muaro Jambi. Ini menunjukkan bahwa ibu kota awal Sriwijaya terletak di Muaro Jambi di tepian sungai Batang Hari dan bukan di sungai Musi.

Situs arkeologi mencakup delapan candi yang sudah digali di kawasan seluas sekitar 12 kilometer persegi, membentang 7,5 kilometer di sepanjang sungai Batang Hari, serta 80 menapo atau gundukan reruntuhan candi yang belum dipugar.

Situs Muaro Jambi yang ditemukan melalui penelitian arkeologi tersebut bercorak Buddha Mahayana-Wajrayana. ini menunjukkan bahwa situs tersebut merupakan pusat pembelajaran agama Buddhis yang berkaitan dengan tokoh cendekiawan Buddhis yakni Suvaradvipi Dharmakirti dari abad ke-10. Catatan sejarah dari Cina juga menyebutkan bahwa Sriwijaya menampung ribuan biksu.

Teori lain berpendapat bahwa ibu kota Sriwijaya terletak di Chaiya, Surat Thani, Thailand Selatan. Chaiya ditafsirkan dari kata “cahaya” dalam bahasa Melayu. Ada pula yang percaya bahwa Chaiya identik dengan Sriwijaya. Sekalipun teori tersebut didukung oleh sejarawan Thailand, namun dianggap kurang kuat.

Perpindahan Pusat Pemerintahan
Dari beberapa teori di muka, sebagian besar sejarawan sepakat bahwa Minanga Tamwan merupakan ibu kota awal Sriwijaya di masa pemerintahan Dapunta Hyang Sri Jayanasa (Dapunta Sailendra). Pendapat tersebut berpijak pada teori Moens yang mendapatkan dukungan Poerbatjaraka.

Sementara penelitihan arkeologi yang dilakukan oleh Universitas Indonesia menyebutkan bahwa Muoro Jambi merupakan pusat pemerintahan awal Sriwijaya. Dari sini muncul dugaan bahwa sesudah Minanga Tamwan, ibu kota Sriwijaya berpindah ke Muoro Jambi.

Dengan demikian teori Coedes yang menyebutkan bahwa pusat pemerintahan awal Sriwijaya berada di Palembang kurang mendapat dukungan dari para sejarawan. Sekalipun Moens sepakat bahwa Palembang pernah menjadi ibu kota Sriwijaya sesudah Dapunta Hyang datang ke wilayah tersebut.

Selanjutnya Moens menyatakan ketika pusat pemerintahan Dapunta Hyang berada di Palembang, salah satu keluarga dalam dinasti tersebut berpindah ke Jawa. Dari sini muncul perkiraan bahwa pengaruh Dinasti Dapunta Hyang yang dikenal dengan Dinasti Sailendra mulai menyebarkan pengaruhnya di Jawa sejak tahun 674.

Pengaruh Dinasti Sailendra semakin kuat ketika Rakai Panangkaran Dyah Pancapana berhasil menggulingkan kekuasaan Ratu Sanjaya di Medang pada tahun 760. Bahkan sejak Rakai Panangkaran (Jawa) atau paska pemerintahan Sri Maharaja (Palembang) hingga akhir pemerintahan Rakai Garung Dyah Samaratungga pada tahun 833, ibu kota Sriwijaya berpindah dari Palembang ke Jawa (Medang).

Namun sejak Balaputradewa (putra Rakai Warak Dyah Samaragrawira atau Rakai Garung Dyah Samaragriwa) menjabat raja, ibu kota Sriwijaya kembali ke Palembang (Swarnadwipa).

Pusat pemerintahan di Swarnadwipa berakhir semasa pemerintahan Sri Cudamani Warmadewa. Semasa pemerintahan Sri Maravijayottunggawarman, ibu kota Sriwijaya berpindah di Kataha. Sejak pemerintahan Sangrama-Vijayottunggawarman hingga Sri Dewa, ibu kota Sriwijaya berpindah di Kadaram.

Sesudah itu, Sriwijaya mengalami keruntuhannya sesudah mendapat serangan dari Rajendra Chola. Paska runtuhnya Sriwijaya, timbullah dua kerajaan yakni Darmasraya dan Malayupura (Pagaruyung). [Sri Wintala Achmad]

https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5d1de13b0d82301afe62a982/pusat-pemerintahan-sriwijaya-dalam-polemik-para-sejarawan?page=all

RATU KALINYAMAT: KISAH CINTA, DENDAM, DAN TAHTA

MENURUT naskah kuna Babad Tanah Jawa, Ratu Kalinyamat melaksanakan tapa brata di Gunung Danaraja, suatu wilayah di Jepara. Namun sumber berbeda menyebutkan bahwa selain bertapa brata di Gunung Danaraja, Ratu Kalinyamat bertapa di Gelang Mantingan dan di Danarasa.

Seandainya berpindah-pindahnya tempat Ratu Kalinyamat di dalam melaksanakan tapa brata itu selaras dengan fakta sejarah, maka memunculkan asumsi agar tidak diconangi keberadaannya oleh Arya Penangsang dan orang-orang Jipang. Sehingga keselamatan Ratu Kalinyamat senantiasa terjaga.

Dok. Araska Publisher

Asumsi lain bahwa berpindah-pindahnya tempat Ratu Kalinyamat di dalam melaksanakan tapa brata sekadar menggambarkan bahwa sepeninggal Pangeran Kalinyamat sesudah dianiaya oleh orang-orang Arya Penangsang amat menggoncangkan jiwanya. Sehingga di dalam menentukan tempat bertapa brata yang terakhir di Gunung Danaraja terlebih dahulu di Gelang Mantingan dan di Danarasa. Selanjutnya….

Pemesanan Buku:

CP: 0878-2387-8303 (Admin)

Transfer: BCA No. Rekening 4451337577 a.n. Teguh Winarso AS.

Hitam Putih Mahapatih Gajah Mada: Menelanjangi Tokoh Utama Pemersatu Nusantara

MAJAPAHIT merupakan kerajaan di tanah Jawa yang dikenal dengan Wilwatikta. Kerajaan yang didirikan oleh Dyah Wijaya (Prabu Kertarajasa Jayawardhana/Nararya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertajasa Jayawardhana) di wilayah Tarik (Majakerta) pada tahun 1239 tersebut pernah mengalami awal kejayaan pada era pemerintahan Tribhuwana Wijayatungggadewi (1328-1350) dengan Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada. Adapun, puncak kejayaan Majapahit sewaktu diperintah oleh Hayam Wuruk pada tahun 1350-1389.

Pada masa awal hingga puncak kejayaan Majapahit, menurut para sejarawan tidak bisa dilepaskan dengan peran Gajah Mada. Namun awal masa surut Majapahit pula dikarenakan tindakan ambisius Gajah Mada yang membunuh Maharaja Prabu Linggabuanawisesa (raja Sunda) beserta rombongan pengantin dari Sunda dalam Perang Bubat pada tahun 1357.

Akibat tindakan gegabah tersebut, Gajah Mada dijauhkan oleh Hayam Wuruk atau mengundurkan diri dari urusan politik istana Majapahit. Sejak itu, Majapahit berangsur-angsur mengalami masa surut yang dimulai sejak Perang Paregreg, perang saudara, hingga hancurnya Majapahit karena serangan Kesultanan Demak pada tahun 1527.

Dari uraian di muka memberikan kesan bahwa masa awal kejayaan dan masa surut Majapahit adalah masa awal kejayaan dan masa surut Gajah Mada. Sehingga Gajah Mada senampak sebagai faktor penentu terhadap nasib Majapahit pada era keberadaannya sejak sebagai kerajaan paska Singhasari atau Daha (1239) hingga masa Kesultanan Demak (1527).

Karena keberadaannya dalam sejarah Majapahit tidak dapat dipandang sebelah mata, maka mengenal lebih jauh mengenai Gajah Mada menjadi sangat penting.

Agar mengenalnya dapat secara obyektif, maka saja kajian Gajah Mada yang hidup pada masa pemerintahan Jayanagara (1309-1328), Tribhuwana Wijaya Tunggadewi (1328-1350), dan Hayam Wuruk (1350-1389) di Majapahit tersebut bukan hanya menyoal mengenai sisi positif, melainkan pula sisi negatifnya. Pengertian lain, mengenal sisi gelap (hitam) dan putih (terang)-nya Gajah Mada. Selanjutnya….

 

Pemesanan Buku:

CP: 0878-2387-8303 (Admin)

Transfer: BCA No. Rekening 4451337577 a.n. Teguh Winarso AS.

Sejarah Kejayaan Singhasari: Antara Mitos, Fakta, Pesona, dan Sisi Kelamnya

FAKTA sejarah menyebutkan bahwa Singhasari merupakan kerajaan yang didirikan Ken Arok pada tahun 1222. Semasa pemerintahan Ranggawuni (Serat Pararaton) atau Sri Jaya Wisnuwardhana (Kakawin Nagarakretagama) pada tahun 1248-1254, Singhasari mulai mengalami perkembangan.

Mengacu pada bukti-bukti sejarah, puncak kejayaan Singhasari terjadi semasa pemerintahan Kertanagara (1268-1292). Namun semasa Kertanagara berkuasa di Singhasari, kerajaan tersebut mengalami kehancurannya. Sesudah itu, Singhasari hanya berstatus sebagai kerajaan bawahan Daha dan berlanjut sebagai kerajaan bawahan Majapahit.

Sesudah Dyah Wijaya berkuasa di Majapahit, nama Singhasari tidak disebut-sebut lagi dalam wacana sejarah kerajaan-kerajaan di tanah Jawa. Tetapi nama Tumapel yang justru muncul sesudah Cakradhara (Kertawardhana) menjadi penguasa wilayah tersebut dan sekaligus sebagai pendamping raja Tribhuwana Wijayatunggadewi (raja Majapahit ke-3). Selanjutnya….

Babad Giyanti: Palihan Nagari dan Perjanjian Salatiga

PADA tahun 1742, istana Kasunanan Kartasura yang hancur akibat Geger Pecinan itu dipindahkan oleh Sunan Pakubuwana II (Raden Mas Prabasuyasa) di wilayah Sala (Surakarta). Sejak saat itu, negeri yang semula didirikan oleh Sunan Amangkurat II (Raden Mas Rahmat) tidak lagi dikenal dengan Kasunanan Kartasura, melainkan Kasunanan Surakarta. Sementara wilayah bekas istana Kasunanan Kartasura kelak dikenal dengan nama Wanakarta.

Sesudah memerintah di Kasunanan Surakarta, Sunan Pakubuwana II menghadapi berbagai persoalan. Salah satu persoalan itu, di antaranya: Pangeran Cakraningrat dari Madura yang semula memberi dukungan politis kepada Sunan Pakubuwana II berubah mendukung Pangeran Mangkunagara atau Raden Mas Said — putra Pangeran Arya Mangkunagara yang dikenal dengan nama Pangeran Prangwadana atau Raden Mas Suryakusuma (Babad Tanah Jawa), Pangeran (Adipati) Mangkunagara (Babad Giyanti), Pangeran Samber Nyawa.

Hal ini disebabkan Pangeran Cakraningrat yang mampu menumpas pemberontakan orang-orang Cina tersebut tidak mendapatkan realisasi dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang berupa penyatuan 2 wilayah yakni Sumenep dan Madura, Jepara dan Pasuruhan, serta Jipang dan Lamongan. Selanjutnya….

Falsafah Kepemimpinan Jawa

Menguak Esensi Falsafah Kepemimpinan Jawa

Untuk dapat memahami filsafat kepemimpinan Jawa, kita harus berbekalkan persepsi literer. Sebelum melangkah lebih jauh, seyogianya kita memahami terlebih dahulu perihal pengertian filsafat kepemimpinan Jawa baik secara harfiah maupun substansial. Hal ini sangat penting, agar bahasan tidak melenceng jauh dari bingkai-bingkai tematik yang ditentukan.

Bila ditilik dari ilmu linguistik, istilah “filsafat kepemimpinan Jawa” merupakan bentukan dari tiga kata benda, yakni: “filsafat”, “kepemimpinan”, dan “Jawa” yang menimbulkan pengertian baru. Untuk dapat menyimpulkan pengertian tentang “filsafat kepemimpinan Jawa”, terlebih dahulu kita perlu menyingkap makna dari setiap kata benda tersebut.

Filsafat

DALAM bahasa Yunani atau Latin, filsafat diidentikkan dengan philosophia. Dalam bahasa Belanda, Jerman, atau Perancis; filsafat diidentikkan dengan philosophic. Sedangkan dalam bahasa Inggris, filsafat diidentikkan dengan philosophy. Selanjutnya….

Sejarah Pemberontakan Kerajaan di Jawa: dari Medang hingga Pasca Mataram

BERDASARKAN Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemberontakan mengandung arti proses, cara, perbuatan memberontak, serta penentangan terhadap kekuasaan yang sah. Namun menurut pandangan umum, pemberontakan dimaknai sebagai penolakan terhadap otoritas penguasa atau pemimpin yang tengah berkuasa di suatu wilayah atau negara tertentu.

Timbulnya aksi pemberontakan yang menurut pimpinan pemberontakan sebagai gerakan revolusi dimulai dari pembangkangan sipil (civil disobedience) hingga kekerasan terorganisir yang berupaya meruntuhkan otoritas yang ada. Tujuan substansi pemberontakan adalah untuk menggantikan pemerintahan yang ada dengan pemerintahan yang baru, pemerintahan idaman para pemberontak.

Dalam sejarah kerajaan-kerajaan di tanah Jawa sejak era Medang (periode Jawa Tengah) hingga Kasunanan Surakarta diwarnai dengan aksi pemberontakan yang dilakukan para pemberontak yang bertujuan untuk melawan atau menggulingkan otoritas raja. Berikut adalah catatan aksi pemberontakan yang dicatat dalam sejarah kerajaan-kerajaan di tanah Jawa

Pemberontakan Era Medang Periode Jawa Tengah