Sejarah Pemberontakan Kerajaan di Jawa: dari Medang hingga Pasca Mataram

BERDASARKAN Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemberontakan mengandung arti proses, cara, perbuatan memberontak, serta penentangan terhadap kekuasaan yang sah. Namun menurut pandangan umum, pemberontakan dimaknai sebagai penolakan terhadap otoritas penguasa atau pemimpin yang tengah berkuasa di suatu wilayah atau negara tertentu.

Timbulnya aksi pemberontakan yang menurut pimpinan pemberontakan sebagai gerakan revolusi dimulai dari pembangkangan sipil (civil disobedience) hingga kekerasan terorganisir yang berupaya meruntuhkan otoritas yang ada. Tujuan substansi pemberontakan adalah untuk menggantikan pemerintahan yang ada dengan pemerintahan yang baru, pemerintahan idaman para pemberontak.

Dalam sejarah kerajaan-kerajaan di tanah Jawa sejak era Medang (periode Jawa Tengah) hingga Kasunanan Surakarta diwarnai dengan aksi pemberontakan yang dilakukan para pemberontak yang bertujuan untuk melawan atau menggulingkan otoritas raja. Berikut adalah catatan aksi pemberontakan yang dicatat dalam sejarah kerajaan-kerajaan di tanah Jawa

Pemberontakan Era Medang Periode Jawa Tengah

Babad Tanah Jawa: dari Nabi Adam hingga Mataram Islam

BERMULA dari benih kehidupan yang dipancarkan oleh Nabi Adam ke dalam rahim Ibu Kawa, lahirlah Nabi Sis. Dari Nabi Sis, lahirlah Sang Hyang Bathara Nur Cahya. Dari Sang Hyang Bathara Nur Cahya, lahirlah Sang Hyang Bathara Nur Rasa.

Dari Sang Hyang Bathara Nur Rasa, lahirlah Sang Hyang Bathara Wening (Sang Hyang Bathara Wenang). Dari Sang Hyang Bathara Wening, lahirlah Sang Hyang Bathara Tunggal. Dari Hyang Bathara Tunggal lahirlah Sang Hyang Bathara Antaga, Sang Hyang Bathara Ismaya, dan Sang Hyang Bathara Manikmaya.

Sesudah menjadi raja di kahyangan Jong Giri Saloka, Sang Hyang Bathara Manikmaya dikenal dengan nama Sang Hyang Bathara Guru, Sang Hyang Jagad Pratingkah, Sang Hyang Bathara Girinata.

Sementara kedua kakak kandungnya yakni Sang Hyang Bathara Antaga dan Sang Bathara Manikmaya yang gagal mengikuti lomba menelan gunung Jamur Dwipa dari Sang Hyang Tunggal tersebut turun di dunia.

Sang Hyang Antaga yang dikenal dengan nama Togog menjadi pamomong (abdi) raja-raja di tanah Sabrang. Sedangkan Sang Hyang Ismaya yang dikenal dengan Semar Badranaya menjadi pamomong raja-raja trah Bremani di Tanah Jawa

Sesudah menikah, Sang Hyang Bathara Guru memiliki empat putra dan seorang putri. Anak-anak dari Sang Hyang Bathara Guru, yakni: Sang Hyang Bathara Sambu (anak pertama), Sang Hyang Bathara Brama (anak kedua), Sang Hyang Bathara Mahadewa (anak ketiga), Sang Hyang Bathari Sri (anak keempat), dan Sang Hyang Bathara Wisnu (anak terakhir).

Di tanah Jawa, Sang Hyang Bathara Wisnu menjadi raja bergelar Prabu Set atau dikenal dengan Prabu Setmata. Selain Sang Hyang Bathara Wisnu, di tanah Jawa ada seorang raja yang sakti mandraguna bernama Prabu Watugunung. Raja ini bertahta di kerajaan Gilingwesi.

Ketika menjadi raja, Sang Hyang Bathara Wisnu jatuh cinta dan menikahi Ni Mbok Medang, wanita simpanan ayahnya yakni Sang Hyang Bathara Guru. Karena murkanya, Sang Hyang Bathara Guru mengusir Wisnu dari lingkungan stana.

Wisnu yang meninggalkan istana itu memasuki hutan belantara. Di bawah pohon beringin yang tumbuh merimbun di Waringinsapta, Wisnu melakukan samadi dan bertapa. Selanjutnya….

Continue reading “Babad Tanah Jawa: dari Nabi Adam hingga Mataram Islam”

[Untung Surapati] Budak, Cinta, dan Penjara

MEMBICARAKAN mengenai asal-usul Untung Surapati (Surawiraaji) tidak bisa dilepaskan dengan sejarah Bali. Sejarah dari suatu pulau di Indonesia yang terletak di sebelah timur pulau Jawa dan dikenal dengan Pulau Dewata. Dikatakan Pulau Dewata, dikarenakan sebagian besar penduduk pulau tersebut memeluk agama Hindu. Selain itu, pulau tersebut dikenal dengan keelokan alamnya.

Diketahui bahwa sebelum menjadi wilayah Indonesia, Bali semula berstatus sebagai kerajaan yang pernah mengalami masa kejayaan di bawah pemerintahan Dharmodayana pada abad ke-10. Di masa pemerintahan Dharmodayana itulah, Bali menjalin hubungan persahabatan dengan Medang (Jawa Timur) melalui perkawinan politik antara Udayana dan Mahendradatta (putri  Makuthawangsawardhana).

Paska pemerintahan Dharmodayana, Bali mengalami masa surut. Semasa pemerintahan Kertanagara (1254-1292), Bali merupakan jajahan Singhasari. Di masa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350), Bali menjadi wilayah kekuasaan Majapahit pada tahun 1343.

Semasa Bali dikuasai oleh Sri Kresna Kepakisan — raja vassal yang ditunjuk Tribhuwana — terjadi pemberontakan kaum Bali Aga. Akibat pemberontakan tersebut, Sri Kresna Kepakisan yang merupakan orang Bali Majapahit itu bermaksud menyerahkan tahta kekuasaan pada Tribhuwana. Sri Kresna Kepakisan tidak ingin melihat pertumpahan darah yang ditimbulkan perang antara orang Bali Aga dan orang Bali Majapahit.

Menanggapi ,maksud Sri Kresna Kepakisan yang akan menyerahkan tahta kekuasaan di Bali, Mahapatih Amangkubhumi Gajah Mada tidak sepakat. Karenanya Gajah Mada memberikan saran kepada Sri Kresna Kepakisan untuk merangkul kaum Bali Aga dengan memelajari budayanya.

Saran Gajah Mada itu diterima oleh Sri Kresna Kepakisan. Maka langkah-langkah yang harus Sri Kresna Kepakisan tempuh, yakni: pertama, melakukan sembahyang di pura Besakih yang dimuliakan kaum Aga. Kedua, mengadakan upacara kremasi untuk menghormati raja dan para bangsawan Bali yang gugur dalam invasi Majapahit. Ketiga, memuliakan mendiang para bangsawan Bali sebagai leluhur. Keempat, merekrut kaum Aga dalam pemerintahan.

Sejak Sri Kresna Kepakisan melaksanakan pendekatan politis dengan kaum Aga, Bali berangsur-angsur aman. Kaum Aga dan Kaum  Majapahit hidup dalam kerukunan hingga terjadilah pernikahan campuran dari kedua kaum tersebut. Persatuan dan kesejahteraaan warga Bali pun tercipta.

Semasa Majapahit jatuh di tangan Kesultanan Demak pada tahun 1527, Bali justru mencapai kejayaan. Dikarenakan imigran dari Jawa yang tidak mengakui kekuasaan Demak tersebut justru memerkaya ide dan seni budaya di Bali. Tokoh-tokoh dengan ide cemerlang kemudian bermunculan. Salah seorang dari mereka adalah Raja Dalem Waturenggong yang mengutamakan persatuan. Di masa pemerintahan Waturenggong yang diembani oleh Mahapatih Ularan (seorang Aga keturunan Ki Pasung Grigis), kekuasaan Bali meliputi Blambangan, Lombok, dan Sumbawa.

Paska pemerintahan Raja Dalem Waturenggong, Bali mengalami masa surut. Keturunan Waturenggong tidak cakap dalam mengelola pemerintahan. Akibatnya banyak daerah koloni melepaskan diri satu persatu. Hingga pada tahun 1639, Bali sempat diserang oleh Sultan Agung dari Mataram. Namun invasi dari Mataram itu berhasil dipukul mundur oleh Patih Jelantik Bogol di pantai Kuta.

Pada abad ke-17, Bali terpecah menjadi beberapa kerajaan. Kerajaan terbesar pecahan Bali adalah Buleleng. Suatu kerajaan dengan ibukota di Singaraja dan di bawah kekuasaan Ki Barak Panji Sakti (Patih Jelantik). Melalui Panji Sakti, serangan Mataram ke Bali berhsil dicegah. Bahkan melalui pasukan Truna Goak (pasukan gabungan Bali Aga, Jawa, Bugis); Panji Sakti berhasil melakukan invasi ke Blambangan.

Perkembangan selanjutnya, Mataram ingin berdamaik dengan Bali. Bukti niat baik Mataram itu dengan memberikan hadiah berupa kuda pada Panji Sakti. Tetapi, Panji Sakti yang hilang semangatnya untuk menjadi raja Buleleng sesudah putra kesayangannya gugur di medan perang itu lebih memilih turun tahta dan melanjutkan hidup sebagai pertapa. Paska pemerinthan Panji Sakti, kerajaan Mengwi dengan penguasa Anak Agung Putu mulai eksis. Semasa menjalankan pemerintahnya, Anak Agung Putu menjaling persahabatan dengan bangsawan-bangsawan Blambangan pro Bali.

Manakala VOC mulai menunjukkan kekuasaan di Jawa, Bali mulai berinteraksi dengan para pedagang Belanda. Bali pun kemudian pecah menjadi kerajaan-kerajaan yang saling bersaing secara militer. Akibatnya, perang tidak hanya terjadi antar kerajaan, namun antara kerajaan dengan desa yang kuat.

Untuk membeayai perang, raja-raja Bali mulai mengekspor budak dari orang-orang penunggak pajak, para pemberontak taklukkan, dan para prajurit musuh yang tertangkap. Sehingga pada waktu itu, Bali menjadi lumbung budak yang siap menyuplainya melalui orang-orang Bugis.

Karena berpengalaman di bidang militer, budak-budak dari Bali direkrut sebagai tentara kolonial dalam politik ekspansinya. Selain itu, budak-budak dari Bali sangat piawai memasak daging babi. Pada masa inilah, Untung dengan nama asli Surawiraaji itu menjadi salah seorang budak kecil yang dijual oleh raja Bali pada bangsa kolonial. Diperkirakan bahwa Untung menjadi budak karena turut menanggung Raden Panji Wanayasa ayahnya yang merupakan penunggak pajak, pemberontak, atau prajurit kalah perang.

Menjadi Budak

Disinggung di muka bahwa Untung Surapati menjadi budak semasih berusia tujuh tahun. Menurut sumber, Untung Surapat merupakan budak Pieter Cnoll.[1] Sesudah Pieter Cnoll meninggal, Untung dilimpahkan pada Cornelis Cnoll yang kejam dan bengis. Karena itulah, Untung yang sakit hati pada majikannya itu melarikan diri hingga menjadi buron VOC.

Menurut sumber yang lain bahwa Untung semula dijual oleh Kapten van Berber dari Makassar. Bila mengacu suatu pendapat bahwa orang-orang Bugis merupakan penyalur budak dari Bali pada bangsa kolonial, dimungkinkan van Berber membeli Untung dari orang Bugis. Oleh van Berber, Untung dijual kepada Kapten Edele Heer Moor di Batavia.

Pendapat bahwa Untung menjadi budak pada Kapten Moor dikisahkan di dalam Babad Tanah Jawa, pupuh Dhandhanggula 8, jilid 14, bagian 84, sebagai berikut:

Nenggih wonten winursita malih 

kapitan Emur ing Batawiyah  

adarbe tetukon rare  

lagya mur pitung taun  

duk tinumbas saking ing Bali  

pekik ing warnanira 

sira Kapitan Mur  

salaminira atumbas 

rare ika Kapitan untunge prapti  

dagang myang lungguhira[2] 

Bila mengacu pada Babad Tanah Jawa di muka, Kapten Moor membeli Untung tidak melalui Kapten van Berber, melainkan dibeli langsung dari Bali. Sesudah membeli budak Untung, Kapten Moor mengalami peningkatan keuntungan dalam berdagan dan naik jabatan sebagai Mayor, Komisaris, dan Edele Heer (kepala dagang dalam organisasi VOC). Pendapat ini sejalan dengan Babad Surapati yang telah diterjemahkan oleh Sudibjo Z.H. dan R. Soeparmo dalam Babad Trunajaja – Surapatai, sebagai berikut:

//… sejak membeli anak dari Bali (Untung) itu/kapten Moor makin banyak keuntungannya/ia adalah seorang pedagang besar di Betawi//Pangkatnya naik, ia menjadi mayor/dan tak lama kemudian komisaris/tak berapa lama sesudah itu bahkan/diangkat menjadi “Edele Heer” Moor…//.

Menyadari bahwa Untung merupakan budak yang dapat mendatangkan keuntungan kepada tuannya, maka Kapten Moor memberikan nama “Untung” pada budak kecilnya itu. Sejak itu, budak yang memiliki nama asli Surawiraaji dikenal dengan nama Untung.

Kisah Cinta Untung 

Dikarenakan mendatangkan keuntungan baik dalam usaha dagang dan kedudukannya, Kapten Edele Heer Moor semakin menyayangi Untung. Sehingga Untung tidak lagi dianggap oleh Moor sebagai budak, melainkan anak emas. Karenanya, Moor memberikan kepercayaan pada Untuk untuk menemani putrinya yang bernama Suzanne.

Seringnya bertemu, hubungan antara Untung dan Suzanne semakin hari semakin akrab. Mereka seperti saudara seayah seibu. Mereka saling menyayangi dan sdaling mengasihi. Sehingga ketika berusia dewasa, mereka saling mencintai sebagai sepasang kekasih.

Bagi Suzanne, Untung adalah pria satu-satunya yang telah mencuri hatinya. Selain tampan, Untung memiliki sifat dermawan. Sebab itu, Suzanne selalu memberikan barang berharga yang diminta Untung. Namun barang itu tidak Untung simpan dan dimiliki sendiri, melainkan dibagi-bagikan kepada 80 budak kolonial yang berasal dari Bugis dan Bali.

Mengetahui Untung membagibagikan barang-barang berharga dari Suzanne putrinya, Moor marah bukan kepalang. Menurut Babad Tanah Jawa, kemarahan Moor itu dilampiaskan dengan mencambuki Untung  dengan rotan. Hingga Untung merasa sakit setengah mati. Berikut Babad Tanah Jawa dalam pupuh Dhandhanggula 14, Jilid 14, bagian 84:

Idler Emur mangkana winarni 

wruh lamun donyanirakeh ilang 

lami dhenger yen anake 

kirda lawan Si Untung 

anguleri donyanireki  

pan anakira nyonyah 

kecil solahipun 

kawedhar tan mawi sandya 

gya cinekel Ki Untung den jamalani 

ngrotan satngah pejah[3]

Menyaksikan penderitaan Untung yang luar biasa saat dicambuk, Moor tidak tega. Sebab itu, Moor mengampuni Untung. Tetapi sesudah Untung berani memasuki gedung bersama Suzzane, menurut penafsiran mereka melakukan hubungan suami istri, Untung ditangkap dan dijebloskan di dalam penjara. Sementara Suzanne dikembalikan ke negeri Belanda.

Tetapi pendapat yang disampaikan dalam Babad Tanah Jawa dan Babad Surapati tersebut ditentang oleh teori yang menyebutkan bahwa Suzaane diasingkan di Teluk Jakarta. Di sana, Suzaane yang melahirkan anak dari benih Untung. Anak itu diberi nama Robert.

Sungguhpun demikian, baik pendapat dalam Babad Tanah Jawa dan Babad Surapati maupun teori lain yang menyebutkan mengenai Suzane sesudah dijebloskannya Untuk di dalam penjara oleh Moor tersebut perlu dikaji ulang. Mengingat kisah tersebut bersumber dari karya fiksi dan asumsi yang dibumbui unsur politis dari pihak kolonial.

Dijebloskan di Dalam Penjara

Akibat hubungan cintanya dengan Suzanne, Untung dijebloskan penjara oleh Kapten Moor. Sewaktu di dalam penjara, Untung bertemu dengan budak-budak kolonial. Menurut Babad Tanah Jawa dan Babad Surapati, jumlah budak yang dipenjara oleh VOC tersebut tidak kurang dari 60 orang.

Di dalam penjara tersebut, Untung menagawarkan gagasan pada pada para budak untuk melarikan diri dan melakukan perlawanan terhadap VOC. Awal mula gagasan itu ditolak oleh sebagian banyak budak. Mengingat mereka sudah berusia tua dan tubuh mereka teramat lemah karrena jarang diberi makan. Namun, Untung terus membakar semangat mereka untuk keluar dari penjara sebagai bentuk perlawanan dengan VOC. Berikut kutipan dalam Babad Surapati yang mengisahkan sejak Untung di dalam dan keluar dari penjara:

Setelah agak lama disekap dalam penjara, Untung berkata kepada teman-temannya senasib: “Saudara-saudaraku semuanya, sayang kita di sini tak banyak berdaya, tidak ada yang mempunyai akal untuk melarikan diri, karena kalian semuanya sakit.”

Teman-temannya menjawab: “Hai Untung, sangat tidak masuk akal, mau melawan lepas dari pasungan besi ini, dan penjara pun tertutup rapat. Pintu-pintu dikunci, dijaga para kumpeni, lalu bagaimana akal budimu?”

Untung menjawab pelan-pelan tetapi tenang: “Begini! Jika kita mendapat pertolongan dari Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa, kita dapat lolos dari penjara ini. Sebab kekuatan makhlukNya tergantung dari belas kasih Yang Maha Penyayang lagi Pengasih.”

Salah satu temannya lalu berkata lagi: “Untung, engkau ini sangat tamak, kami ini banyak yang sudah tua-tua. Dalam penjara dan pasungan ini saya sendiri sudah tiga bulan lamanya, dan selama itu jarang diberi makan. Bagaimana pun saya tak mendapat akal untuk lolos. Dan engkau yang masih muda belia, berusahalah sekuat tenaga mudamu, berdaya-upayalah sebanyak-banyaknya. Mungkin engkau dapat menemkan akal budi, lepas dari pasungan besi kuat ini. Kalau dapat, benar-benar engkau orang jantan.”

Untung menjawab sambil bersenyum: “Aku tidak bicara dengan orang tua seperti kamu ini; yang kupikirkan ialah orang banyak ini,maka terserahlah menurut kehendak hatimu, sebab agaknya kamu ini tidak mengetahui.”

Untung berbicara dengan kata pelan-pelan kepada teman-teman senasib yang banyak itu: “Saudara-saudara senasib dan sepenanggungan. Jika kiranya di antara saudara-saudara ada yang dapat melepaskan kita dari belenggu ini, itulah yang kita inginkan semuanya!”

Orang banyak itu semuanya menjawab: “Untung, andaikata kamu ini dapat lepas karena akal budi dan daya-upayamu, lalu apa yang menjadi kehendakmu. Meskipun lepas dari kurungan besi ini, tak urungya masih ada pasungan ini.”

Untung menjawab sambil tertawa, dengan mengurut-urut seluruh tubuhnya, dan lepaslah ia dari belenggu pasungan besi itu. Terheran-heranlah semua yang melihat. Belenggu keenam puluh orang tahanan, kemudian dilepas dan semuanya telah bebas. Hanya seorang yang masih terbelenggu, yaitu orang tua yang mengejek tadi.  Maka semuanya yang kini telah lepas, bersama-sama mengucapkan terima kasih mereka kepada Untung.

Catatan Penting

Dari uraian di muka, gambaran mengenai Untung Surapati dari masa awal kehidupan sampai dipenjarakan oleh Kapten Moor dapat diketahui secara jelas. Di mana Untung merupakan seorang anak yang menjadi budak keluarga Pieter Cnoll dan berlanjut menjadi budak pada Cornelis Cnoll (versi pertama) atau Kapten Moor (versi kedua) sejak berusia 7 tahun.

Dikarenakan keberadaannya membawa keberuntungan dalam berdagang dan peningkatan pangkat bagi Kapten Moor, Untung diangkat sebagai anak. Sejak itu, nasib Untung lebih baik ketimbang budak-budak lainnya. bahkan Untung diminta oleh Kapten Moor untuk menemani putrinya yakni Suzanne. Tetapi hubungan cintanya dengan Suzanne, Untung dijebloskan ke dalam penjara.

Sejak menjadi penghuni hotel prodeo, Untung berusaha untuk bebas dan melawan VOC. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Untung melawan VOC bukan karena kesadarannya sebagai bangsa terjajah, melainkan karena ingin terbebas dari dalam penjara. Mengingat sewaktu hidup dengan banyak kemudahan ketika menjadi anak angkat Kapten Moor, Untung tidak berniat untuk melakukan pemberontakan terhadap VOC.

Sungguhpun demikian, perhatian Untung terhadap para budak pribumi sangat tinggi. Terbukti, harta benda yang diberikan oleh Suzaane kepada dirinya dibagi-bagikan kepada para budak yang hidup dalam penderitaan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Untung memiliki sifat dermawan kepada wong cilik, namun belum memiliki kesadaran untuk memerjuangkan kemerdekaan nasib bangsa nusantara yang hidup dalam tekanan VOC. [Sri Wintala Achmad]

[1] Pieter Cnoll merupakan kepala pedagang dalam organisasi VOC di Batavia.

[2] Terjemahan Babad Tanah Jawa, pupuh Dhandhanggula 8, jilid 14, bagian 84, sebagai berikut: //Terdapat suatu kisah lagi/Kapten Emur (Moor) di Batavia/memiliki budak belian/baru berusia tujuh tahun/ketika dibeli dari Bali/tampan wajahnya/dialah Kapten Mur/selama membeli/budak itu mendatangkan keberuntungan/dalam berdagang dan kedudukan//.

[3] Terjemahan Babad Tanah Jawa, pupuh Dhandhanggula 14, jilid 14, bagian 84, sebagai berikut: //Idler Emur (Edele HeerMoor) dikisahkan kemudian/mengetahui kalau harta bendanya banyak yang hilang/lama mendengar kalau putrinya/mencintai si Untung/yang menggerogoti harta mendanya/dan putrinya (Suzanne)/perbuatannya (memberi barang-berang berharga pada Untung) diconanginya/segeralah ditangkap Untung dan disiksa dengan rotan (hingga sakitnya) setengah mati//.

https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5d6d78c5097f366d2c0544c3/untung-surapati-budak-cinta-dan-penjara?page=all

 

Sejarah Kelam Raja-raja Jawa

Keberlangsungan kerajaan-kerajaan di Jawa niscaya diwarnai dengan intrik, konspirasi perebutan harta, tahta, dan wanita. Pada era pemerintahan Dewa Singha, Kalingga Selatan diserang oleh Sanjaya. Akibat serangan itu, tahta kekuasaan Dewa Singha tergulingkan. Paska runtuhnya Kalingga Selatan, Sanjaya mendirikan Kerajaan Medang dan menobatkan diri sebagai raja.

Selama keberlangsungan Kerajaan Medang diwarnai aksi perang dan makar untuk memerebutkan tahta kekuasaan. Aksi perang (ekspedisi militer) dilakukian oleh Rakai Panunggalan Dyah Dharanindra terhadap raja-raja Jawa, Sumatera dan di luar wilayah nusantara seperti Campa dan Kamboja.

Sementara aksi makar dibuktikan dengan pemberontakan Rakai Panangkaran Dyah Pancapana terhadap kekuasaan Sanjaya, pemberontakan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni terhadap kekuasaan Rakai Pikatan Mpu Manuku, pemberontakan Rakai Gurunwangi Dyah Saladu dan Rakai Limus Dyah Dewendra terhadap kekuasaan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala, penyerangan Rakai Watukura Dyah Balitung terhadap Dyah Saladu dan Dyah Dewendra, pemberontakan Rakai Hino Mpu Daksa terhadap kekuasaan Dyah Balitung, dan pemberontakan Rakai Sumba Dyah Wawa terhadap kekuasaan Rakai Layang Dyah Tulodong.

Pemerintahan Dyah Wawa berakhir bersama meletusnya Gunung Merapi yang teramat dahsyat pada tahun 928. Sejak itu, Mpu Sindok yang merupakan Rakryan Mapatih Hino memindahkan ibukota Medang dari bumi Mataram (Jawa Tengah) ke Tamlang dan berakhir di Watugaluh (Jawa Timur) pada tahun 929. Mengingat Dyah Wawa menjadi korban bencana Merapi, Mpu Sindok kemudian menobatkan diri sebagai raja Medang.

Tidak disebutkan secara pasti apakah semasa pemerintahan Mpu Sindok, terjadi makar. Prasasti Waharu (931) hanya sekilas menyinggung bahwa Medang pernah mendapat serangan dari musuh negara. Apakah musuh negara itu datang dari para pemberontak atau kerajaan lain tidak ada sumber sejarah yang menyebutkannya dengan gamblang.

Semasa pemerintahan raja wanita Sri Isanatunggawijaya dan Sri Makuthawangsawardhana tidak diketahui apakah Medang dilanda aksi makar. Makar pada era Medang periode Jawa Timur baru diketahui semasa pemerintahan Dhamawangsa Teguh. Saat itu, Haji Wurawari yang merupakan raja bawahan Medang memberontak terhadap kekuasaan Dharmawangsa Teguh sesudah tidak direstui untuk menikahi putrinya yakni Dewi Laksmi.

Makar Haji Wurawari dari Lwaram terhadap kekuasaan Dharmawangsa Teguh menuai hasil gemilang karena dukungan Sriwijaya. Akibat makar Haji Wurawari, Dharmawangsa Teguh tewas beserta para tamu undangan resepsi pernikahan Dewi Laksmi dan Airlangga. Peristiwa tewasnya Dharmawangsa Teguh dan para tamu undangan tersebut dikenal dengan mahapralaya (kematian massal).

Paska runtuhnya Kerajaan Medang, timbullah Kerajaan Kahuripan di bawah kepemimpinan Airlangga. Pada awal menjadi raja, Arilangga menundukkan Raja Hasin, Wisnuprabhawa (raja Wuratan), dan Panuda (raja Lewa) pada tahun 1030.

Namun pada tahun 1032, Airlangga mendapat serangan hebat dari putri Raja Panuda yang berkuasa di daerah Tulungagung (1032). Melalui serangan putri Raja Panuda, Kahuripan diporak-porandakan. Bersama Mapanji Tumanggala, Airlangga melarikan diri ke Desa Patakan.

Pada tahun yang sama, Airlangga berbalik menyerang hingga menaklukkan putri Raja Panuda. Airlangga pun berhasil menaklukkan Haji Wurawari dan menumpas aksi makar Raja Wijayawarma dari Kerajaan Wengker pada tahun 1035.

Pada tahun 1042, Airlangga turun tahta sesudah membagi wilayah Kahuripan menjadi Janggala dan Kadiri. Karena Janggala merupakan wilayah strategis perdagangan, Kadiri berusaha menguasainya. Ketika pemerintahan Mapanji Jayabhaya, Janggala berhasil dikuasai. Karenanya Tumapel yang semula merupakan wilayah Janggala berada di bawah kekuasaan Kadiri.

Semasa pemerintahan Kertajaya (1182-1222), Tumapel dipimpin oleh seorang Akuwu yakni Tunggulametung. Menurut Serat Pararaton, Akuwu Tunggulametung dibunuh oleh Ken Arok. Motivasi pembunuhan tersebut, karena Ken Arok ingin menikahi Ken Dedes yang diyakini sebagai wahyu keprabon (wahyu raja).

Dengan mendapat dukungan para pendeta Buddha dan Hindu yang membelot pada Kertajaya, Ken Arok menyerang Kadiri (1222). Akibat serangan itu, Kertajaya berhasil ditaklukkan.

Berkat kejayaannya atas Kadiri, Ken Arok menobatkan diri sebagai raja di Tumapel yang kelak dikenal dengan Singhasari sejak pemerintahan Ranggawuni (Wisnuwardhana).

Menurut Serat Pararaton bahwa selagi berkuasa selama lima tahun (1222-1227), Ken Arok dibunuh oleh Anusapati yang merupakan putra Ken Dedes dan Akuwu Tunggulametung. Oleh Mapanji Tohjaya (putra Ken Arok dan Ken Umang), Anusapati dibunuhnya. Oleh Ranggawuni (putra Anusapati), Tohjaya berhasil dibunuhnya. Sejak itu, Ranggawuni menobatkan diri sebagai raja di Singhasari.

Paska pemerintahan Ranggawuni (1254), Singhasari dikuasai oleh Kertanagara (1254-1292). Semasa menjadi raja, Kertanagara memerluas wilayah kekuasaannya melalui Ekspedisi Pamalayu.

Gegara pasukannya banyak dikirim ke luar Jawa untuk merealisasikan misi itu, Arya Wiraraja yang kecewa karena diturunkan pangkatnya oleh Kertanagara menghasut Jayakatwang (adipati Gelanggelang) untuk memberontak pada kekuasaan Kertanagara. Pemberontakan Jayakatwang menuai hasil gemilang.

Sesudah Kertanagara tewas, Jayakatwang menjadi raja. Tetapi pusat pemerintahannya tidak di Singhasari (Malang), melainkan di Daha (Kadiri) pada tahun 1293.

Belum lama menjadi raja, kekuasaan Jayakatwang di Daha digulingkan oleh Dyah Wijaya (menantu Kertanagara). Keberhasilan makar Dyah Wijaya tersebut karena memanfaatkan pasukan Tartar (Mongolia) dan mendapat dukungan dari para pengikutnya — Arya Wiraraja, Ranggalawe, Mpu Nambi, Lembu Sora, Mahisa Nabrang, dan lainnya. Sesudah pasukan Tartar diusir dari tanah Jawa, Dyah Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit atau Wilwatikta (Majakerta) pada tahun 1293.

Pada awal pemerintahan Dyah Wijaya, Majapahit dihadapkan pada intrik-intrik politik yang dilakukan oleh Halayuda (Kakawin Nagarakretagama) atau Mahapati (Serat Pararaton). Berkat ambisinya untuk menjadi Rakryan Mapatih Majapahit, Halayuda menyingkirkan tokoh-tokoh kunci, antara lain: Ranggalawe, Lembu Sora, dan Mpu Nambi.

Sesudah ketiga tokoh kunci yang diklaim oleh Dyah Wijaya akan melakukan makar terhadap kekuasaannya itu tewas, Halayuda menjadi Rakryan Mapatih Majapahit semasa pemerintahan Jayanagara (1309-1328).

Namun sebelum akhir pemerintahan Jayanagara, Halayuda yang dikenal sebagai Sengkuni Majapahit itu dibunuh oleh Bekel Jaka Mada (pimpinan pasukan Bhayangkari) yang kelak dikenal dengan Gajah Mada.

Pada era pemerintahan Jayanagara, Majapahit diwarnai dengan intrik-intrik politik internal yang mengarah pada praktik makar dari para punggawanya. Terbukti pada masa itu muncul beberapa praktik makar yang dilakukan oleh Mandana, Pawagal, dan Ra Semi (1316); Mpu Nambi (1316); serta Ra Kuti (1319). Makar Ra Kuti tersebut mendapatkan dukungan dari Ra Yuyu, Ra Tanca, dan pasukan Winehsuka.

Akibat makar Ra Kuti, Jayanagara yang mendapat kawalan Jaka Mada beserta pasukan Bhayangkari mengungsi ke Desa Bedander. Oleh Jaka Mada, praktik makar Ra Kuti berhasil ditumpas. Sesudah keamanan Majapahit sudah terjamin, Jayanagara kembali ke istana Majapahit.

Karena menghendaki tahta Majapahit tidak jatuh di luar keturunannya, Jayanagara berhasrat menyunting Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat yang merupakan saudara seayah lain ibu. Hasrat Jayanagara ini ditentang oleh Jaka Mada.

Maka muncul penafsiran dari sebagian sejarawan, Jaka Mada yang memerintahkan Ra Tanca (tabib istana) untuk membunuh Jayanagara. Sesudah Jayanagara tewas, Jaka Mada membunuh Ra Tanca. Ini dimaksudkan agar dalang pembunuh Jayanagara tidak diconangi oleh keluarga istana, para punggawa, dan rakyat Majapahit.

Sesudah kemangkatan Jayanagara, Gayatri mengangkat Dyah Gitarja (Tribhuwana Wijayatunggadewi) menjadi raja Majapahit (1328-1350). Semasa pemerintahannya, muncul praktik makar dari wilayah Sadeng dan Keta. Oleh Adityawarman dan Tribhuwana sendiri, makar tersebut berhasil dibasmi.

Pada tahun 1350, Tribhuwana Wijayatunggadewi mengundurkan diri dari jabatan raja untuk bergabung sebagai anggota Sapthaprabhu. Sebagai pengganti raja Majapahit adalah Hayam Wuruk.

Di masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389), terjadi peristiwa berdarah akibat Perang Bubat. Perang antara pasukan Majapahit di bawah komando Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Gajah Mada versus rombongan pengantin dari Sunda di bawah pimpinan Maharaja Linggabuana.

Perang tersebut muncul karena Linggabuana tidak bersedia mematuhi perintah Gajah Mada agar Dyah Pitaloka Citraresmi diserahkan pada Hayam Wuruk sebagai tanda takluk Sunda kepada Majapahit, dan bukan sebagai istri.

Paska pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami masa surut. Semasa kekuasaan Wikramawardhana (1390-1428), terjadi Perang Paregrek. Perang saudara antara Wikramawardhana (Majapahit Barat) dengan Bhre Wirabhumi (Majapahit Timur) pada tahun 1404. Perang tersebut mengakibatkan gugurnya Bhre Wirabhumi di tangan Bhra Narapati (Kakawin Nagarakretagama) atau Raden Gajah (Serat Pararaton) pada tahun 1406.

Selain Perang Bubad, Perang Paregreg, dan makar; Majapahit di masa pemerintahan Dyah Kertawijaya (1447-1451) diwarnai dengan pembunuhan penduduk Tidung Gelating oleh Bhre Paguhan (putra Bhre Tumapel). Peristiwa kelam pun menimpa Dyah Kertawijaya.

Menurut Serat Pararaton, Dyah Kertawijaya turun tahta sesudah dikudeta dan dibunuh oleh Rasajawardhana yang kemudian menjadi raja Majapahit pada tahun 1451-1453. Sepeninggal Rajasawardhana, Majapahit dalam kekosongan pemerintahan (1453-1456).

Semasa pemerintahan Dyah Suprabhawa (1466-1474), Majapahit kembali dilanda kemelut politik. Dyah Suprabhawa terpaksa meninggalkan tahta kekuasaannya untuk melarikan diri ke Dayo atau Daha sesudah tidak berdaya menghadapi kudeta yang dilakukan Bhre Kertabhumi. Sesudah Dyah Suprabhawa meninggalkan istana, Bhre Kertabhumi naik tahta sebagai Raja Majapahit dengan ibukota di Majakerta (1474-1478).

Berakhirnya masa pemerintahan Bhre Kertabhumi karena pemberontakan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (putra Dyah Suprabhawa), berakhir pula Riwayat Majapahit dengan ibukota Majakerta. Oleh Dyah Ranawijaya yang kemudian menjadi raja, pusat pemerintahan Majapahit dipindahkan dari Majakerta ke Daha.

Eksistensi Majapahit sebagai kerajaan yang pernah berjaya sebagai negeri gemilang di nusantara pun berakhir. Manakala kekuasaan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya dapat dihancurkan oleh pasukan Kesultanan Demak semasa pemerintahan Raden Patah (1478-1518). Semasa Daha yang berstatus kadipaten itu mendapatkan dukungan Portugis untuk melakukan makar terhadap Demak, Sultan Trenggana berhasil membasminya pada tahun 1527.

Pada tahun 1546, Sultan Trenggana tewas dibunuh oleh putra Adipati Surabaya yang masih kecil. Sebagai pengganti sultan Demak adalah Raden Mukmin (Sunan Prawata).

Sebagaimana Sultan Trenggana, Sunan Prawata pun turun tahta karena dibunuh oleh Rangkut. Perjineman  kepercayaan Adipati Arya Penangsang (Jipang) yang membalas dendam karena Pangeran Kikin ayahnya tewas dibunuh Surayata (suruhan Sunan Prawata) saat timbul perebutan kekuasaan Demak paska pemerintahan Patiunus (1521).

Terbunuhnya Sunan Prawata menimbulkan konflik antara Adipati Hadiwijaya (menantu Sultan Trenggana) dan Arya Penangsang yang sama-sama ingin menjadi raja di tanah Jawa. Paska keberhasilan Pemanahan, Penjawi, Juru Mrentani, dan Danang Sutawijaya atas sayembara “Penggal Kepala Arya Penangsang” dari Ratu Kalinyamat, Adipati Hadiwijaya yang mendapat restu dari Sunan Giri itu menjadi raja di Pajang (1549-1582).

Ketika Kesultanan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya relatif aman. Hanya saja Sultan Hadiwijaya berhadapan dengan sikap politis Danang Sutawijaya (Panembahan Senapati) yang tidak mau datang ke Pajang untuk menyerahkan upeti sebagai tanda takluk bawahan pada raja.

Sikap politis Danang Sutawijaya yang ingin menjadikan Mataram sebagai negeri merdeka semakin nyata ketika mengirim para mantri pajak untuk merebut Tumenggung Mayang beserta istrinya yang akan dibuang ke Semaran oleh Sultan Hadiwijaya. Hukum buang tersebut dilakukan karena Tumenggung Mayang merestui hubungan cinta Sekar Kedaton (putri Sultan Hadiwijaya) dengan Pabelan.

Karena pembelotan Danang Sutawijaya semakin terbukti, Sultan Hadiwijaya beserta pasukan Pajang menyerang Mataram. Sesampai di Prambanan, pasukan Pajang itu dihadang oleh paskan Mataram hingga terjadilah perang pada tahun 1582.

Dalam perang itu, pasukan Pajang mengalami kekalahan. Sepulang dari berperang, Sultan Hadiwijaya gering dan tidak lama kemudian mangkat. Paska kemangkatan Sultan Hadiwijaya, Pajang dikuasai oleh Arya Pangiri (adipati Demak) yang merupakan menantu Sultan Hadiwijaya dan putra Sunan Prawata pada tahun 1583-1586.

Karena semasa pemerintahannya, Arya Pangiri lebih mengutamakan kepentingan orang-orang Demak ketimbang orang-orang Pajang, Pangeran Banawa (putra Sultan Hadiwijaya) yang mendapat dukungan Panembahan Senapati dari Mataram itu melakukan makar.

Akibatnya, Arya Pangiri berhasil dilengserkan dari tahta kekuasaannya sebagai sultan di Pajang. Paska pemerintahan Arya Pangiri, Pangeran Banawa yang semula menjadi adipati di Jipang dinobatkan sebagai sultan di Pajang (1586-1587).

Paska pemerintahan Pangeran Banawa pada tahun 1587, Kesultanan Pajang hanya berstatus sebagai bawahan Mataram. Bisa dikatakan bahwa Mataram merupakan kerajaan merdeka tanpa bayang-bayang kekuasaan Pajang. Sebab itu, Panembahan Senapati memiliki hak penuh untuk melakukan ekspansi wilayah kekuasaan ke Jawa Timur.

Sesudah Panembahan Senapati menundukkan Madiun hingga menjadikan Retna Dumilah (putri Adipati Rangga Jumena) sebagai permaisuri kedua, Adipati Pragola I dari Pati melakukan makar terhadap Mataram. Makar tersebut karena Mustikajawi yang merupakan saudara kandungnya dan sekaligus permaisuri Panembahan Senapati telah diduakan dengan Retna Dumilah. Berkat ketangguhan pasukan Mataram, makar Adipati Pragola I dapat dipadamkan.

Praktik makar yang terjadi di Mataram sejak pemerintahan Panembahan Senapati hingga Sunan Amangkurat I tidak hanya terjadi sekali, namun beberapa kali. Semasa pemerintahan Raden Mas Jolang (1586-1587), Mataram dihadapkan praktik makar Pangeran Puger (adipati Demak) dan Adipati Jayaraga dari Panaraga. Semasa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645), Mataram dihadapkan praktik makar Adipati Pajang, Adipati Pragola II, para ulama Tembayat, dan Adipati Ukur. Semasa pemerintahan Sunan Amangkurat I (1645- 1677), Mataram dihadapkan praktik makar Panembahan Ageng Giri dan Trunajaya yang mendapatkan dukungan Panembahan Rama, Kraeng Galengsong, dll. Berkat makar yang dilakukan Trunajaya tersebut, Mataram mengalami keruntuhannya.

Melalui kerjasamanya dengan VOC, Sunan Amangkurat II berhasil menangkap dan menjatuhi hukuman mati kepada Trunajaya. Sesudah kematian Trunajaya, Sunan Amangkurat II yang semula menobatkan diri sebagai raja di Tegalarum mendirikan kerajaan di Kartasura yang kelak dikenal dengan Kasunanan Kartasura.

Selama keberlangsungannya, Kasunanan Kartasura dilanda perang saudara yang dipicu dengan ambisi untuk mendapatkan kekuasaan sebagai raja. Berdasarkan catatan sejarah, terjadi tiga kali perang saudara di Kartasura yang dikenal dengan Perang Suksesi Jawa I, Perang Sukesesi Jawa II, dan Perang Suksesi Jawa III yang berlangsung sejak awal Kasunanan Kartasura (1745) hingga awal Kasunanan Surakarta atau Perjanjian Salatiga (1757).

Diketahui bahwa Perang Suksesi Jawa I yakni perang perebutan kekuasaan antara Sunan Amangkurat III versus Pangeran Puger yang mendapat dukungan VOC dan Arya Mataram.

Perang Suksesi Jawa II antara Sunan Amangkurat IV versus Arya Dipanagara, Pangeran Blitar, Pangeran Purbaya, dan Arya Mataram. Sedangkan, Perang Suksesi Jawa III antara Sunan Pakubuwana II hingga berlanjut pada Sunan Pakubuwana III versus Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said (Pangeran Samber Nyawa).

Akhir Perang Suksesi Jawa III ditandai dengan Perjanjian Giyanti (1755) dan Perjanjian Salatiga (1757). Dari Perjanjian Giyanti, lahirlah Kesultanan Yogyakarta yang merupakan wilayah kekuasaan Raden Mas Sujana atau Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengkubuwana I).

Sementara dari hasil Perjanjian Salatiga, lahirlah Praja Mangkunegaran yang merupakan wilayah kekuasaan Raden Mas Said (Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I).

[Sri Wintala Achmad]

https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5d7093e4097f3655fe1f8dc2/sejarah-kelam-raja-raja-jawa?page=all

Sultan Agung, Lumpuhnya Giri Kedaton, dan Bubarnya MDW

Dalam catatan sejarah, Panembahan Senapati yang meluaskan wilayah kekuasaannya tidak pernah berhasil menaklukkan daerah pesisir yang kental dengan spirit Islam. Salah satu kerajaan yang tidak pernah berhasil ditundukkan oleh Panembahan Senapati adalah GiriKedaton.

Belajar pada kegagalan Panembahan Senapati yang tidak mampu menundukkan kerajaan-kerajaan Islam di bawah kendali Majelis Dakwah Walisanga (MDW), Sultan Agung yang memadukan Tahun Hijriyah dan Tahun Saka hingga menjadi Tahun Jawa tersebut mengajukan permohonan ke Ottoman (Kekaisaran Islam) untuk menggunakan gelar Sultan. Sesudah dikabulkan permohonan itu, Sultan Agung merangkul para wali dengan tujuan agar Mataram diakui sebagai kerajaan Islam.

Dari banyaknya inovasi yang dilakukan Sultan Agung, maka perubahan perhitungan tahun pun memicu perubahan lainnya. Berbagai upacara menjadi berubah waktu dan penyebutannmya. Penentuan 1 Sura yang bersendi almanak Aboge (Alip Rebo Wage) berselisih waktu. Sekatenan yang semula sebagai ‘pameling asaling dumadi‘ dimaknai sebagai upacara memeringati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ketika Mataram diakui sebagai kerajaan Islam, ekspansi wilayah kekuasan yang dilakukan oleh Sultan Agung dimulai. Menurut De Han dan De Graff, kerajaan-kerajaan kecil di pesisir satu persatu diklaim sebagai tanah milik Mataram. Hal ini menyebabkan ketidakharmonisan kerajaan-kerajaan Islam di wilayah pesisir.

Saat pertemuan Bupati di Rembang (Jawa Tengah), Sunan Prapenyang mendengar berita praktik ekspansi wilayah kekuasaan dari Sultan Agung memberi peringatan. Sindiran Sunan Prapen pada Sultan Agung tersebut tertuang dalam Kitab al-Asror, sebagai berikut: “Dengan halus Sang Giri Nata (Giri Prapen/Kiai Kawis Guwa) menyindir pada cucu Panembahan Senapati.”

Sindiran Sunan Prapen yang tertuang dalam Kitab al-Asror ternyata tidak membuat Sultan Agung sadar, namun kecewa hatinya. Hingga raja Mataram itu menyimpan dendam kesumat pada Sunan Prapen. Terbukti setelah Sukadana (sekutu Surabaya di Pontianak) hingga penaklukan Surabaya pada tahun 1625, Pangeran Jayenglengkara (sang adipati Surabaya) menyatakan takluk pada Sultan Agung.

Ketika Adipati Jayalengkara mangkat, Pangeran Pekik putranya dipanggil Sultan Agung untuk datang ke Mataram. Oleh Sultan Agung, Pangeran Pekik dinobatkan sebagai adipati Surabaya dengan menggantikan Adipati Jayenglengkara. Selain itu, Pangeran Pekik dinikahkan dengan Ratu Pandansari putrinya.

Perihal kebijakan Sultan Agung yang mengangkat Pangeran Pekik sebagai adipati Surabaya dan menikahkahkannya dengan Ratu Pandansari tersebut; para kerabat, punggawa, dan para adipati telukan tidak sepakat. Mengingat penaklukkan Surabaya yang membutuhkan waktu sangat lama itu telah menelan banyak korban. Mereka pun berpikir bahwa Pangeran Pekik belum teruji kesetiaannya pada Mataram. Sungguhpun demikian, mereka tidak berani menentang kebijakan Sultan Agung yang belum diketahui arah tujuannya.

Kedok Sultan Agung atas kebajikannya pada Pangeran Pekik tersingkap ketika bercerita pada Ratu Pandansari. Di mana, Sultan Agung menghendaki Pangeran Pekik untuk menyerang Giri Kedaton yang menentang ekspansi wilayah kekuasaan Mataram.

Selain alasan di muka, Sultan Agung menyadari bahwa tidak ada panglima perang Mataram yang bernyali menaklukkan Giri Kedaton. Mereka gentar untuk menghadapi Sunan Prapen. Seorang yang memiliki kelebihan karena menguasai ilmu dunia dan agama.

Bagi Sultan Agung, keputusan untuk menyerang Giri Kedaton sangat dilematis. Sebagai seorang muslim, Sultan Agung menghormati Sunan Prapen. Namun ketika teringat sindiran halus dari Sunan Prapen, Sultan Agung ingin menyingkirkannya.

Karena tekadnya belum bulat, Sultan Agung menunda penyerangannya ke Giri Kedaton. Sultan Agung mengetahui bahwa Giri Kedaton memiliki kewibawaan di mata rakyat. Di bawah Sultan Agung, Sunan Prapen seperti matahari yang sangat terang benderang sinarnya di wilayah timur. Banyak raja menghaturkan hormat dan tanda takluk pada Sunan Prapen. Tidak jarang raja-raja meminta pertimbangan pada Sunan Prapen yang berkaitan dengan masalah kenegararaan.

Bagi Sultan Agung yang ingin menguasai seluruh Jawa tidak ada matahari kembar di tanah Jawa. Kalau Sunan Prapen dibiarkan hidup, maka dimungkinkan Mataram akan lenyap dari muka bumi. Maka dengan tekad bulat, Sultan Agung ingin menyerang Giri Kedaton dan membinasakan Sunan Prapen melalui Pangeran Pekik.

Sementara bagi Pangeran Pekik sendiri, perintah Sultan Agung untuk menundukkan Giri Kedaton itu dirasakannya sangat berat. Karena sebagaimana keturunan Sunan Ampel, Pangeran Pekik tidak mau memadamkan matahari Islam di wilayah Giri Kedaton. Karenanya sewaktu Pangeran Pekik tampak bimbang, Ratu Pandansari merayunya agar bersedia menyerang Giri Kedaton.

Kepada Pangeran Pekik, Ratu Pandansari menyatakan bahwa hubungan antara Sunan Prapen dan Adipati Jayenglengkara muridnya itu telah putus. Di samping, Sunan Prapen bukan murni lagi sebagai wali karena telah mengenal keris dan pedang. Dari sinilah, semangat Pangeran Pekik untuk menyerang Giri Kedaton mulai menyala dan berkobar-kobar.

Pada tahun 1636, Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari pergi ke Surabaya. Di sana, mereka menyiapkan pasukan untuk menyerang Giri Kedaton. Sebelum meninggalkan Mataram, mereka mendapat dua pusaka dari Sultan Agung yakni Bende Kiai Bicak dan Tombak Kiai Plered. Sesudah pasukan Mataram dan Surabaya bergabung, mereka menyerbu Giri Kedaton.

Tidak seperti perang Mataram versus Surabaya, perang Mataram versus Giri Kedaton bukan sekadar perang politik, namun pula perang spiritual. Sebelum perang meletrus, Pangeran Pekik memerintahkan Adipati Sepanjang untuk menyebar telik sandi agar mengetahui peta kekuatan Giri Kedaton. Berdasarkan laporan dari telik sandi, Giri Kedaton sudah mengetahui kalau Mataram dan Surabaya akan menyerang Giri Kedaton. Terbukti Giri Kedaton telah melatih 200 prajurit di bawah asuhan Endrasena. Karena masih keturunan ningrat Cina, Endrasena dikenal dengan Ki Cina.

Sesudah mendengar laporan dari Adipati Sepanjang, Pangeran Pekik yang tidak menghendaki terjadinya pertumpahan darah sesama umat muslim di Giri Kedaton membujuk Sunan Prapen untuk menyerah baik-baik pada Mataram. Namun berkat dukungan Endrasena, Sunan Prapen menolak permohonan Pangeran Pekik.

Dikarenakan Sunan Prapen tidak mau tunduk pada Mataram, Pangeran Pekik beserta Ratu Pandansari, dan pasukannya menyerang Giri Kedaton. Pecahlah perang antara pasukan Giri Kedaton di bawah komando Endrasena melawan pasukan gabungan Mataram-Surabaya di bawah komando Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari.

Di bawah kepemimpinan Endrasena, pasukan Giri Kedaton berhasil membuat kocar-kacir pasukan gabungan Mataram-Surabaya. Mengetahui kekalahan pasukannya, Ratu Pandansari tidak marah. Sebaliknya, Ratu Pandansari membangkitkan pasukannya dengan money politic. Seluruh pasukannya diberi pakaian indah dan uang. Karena strategi itulah, semangan pasukan Mataram-Surabaya kembali bangkit hingga mampu melumpuhkan pasukan Giri Kedaton. Sesudah mengalami kejayaan, pasukan Mataram-Surabaya menjarah rayah harta benda di dalam istana Giri Kedaton.

Sejak Giri Kedaton mengalami kelumpuhan, MDW dibubarkan. Selain itu, Sultan Agung mulai diakui sebagai satu-satunya raja besar di tanah Jawa. Karenanya Sultan Agung menggunakan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama Abdullah Muhammad Maulana Abdurrahman Khalifatullah ing Tanah Jawa.

Sungguhpun Giri Kedaton berhasil dilumpuhkan oleh Pangeran Pekik dan Ratu Pandansari, namun tetap menanam dendam pada Mataram. Terbukti sesudah Mataram dikuasai oleh putra Sultan Agung yakni Sunan Amangkurat I, Panembahan Giri (putra Sunan Prapen) mendukung pemberontakan Trunajaya. Akibat pemberontakan yang didukung oleh Panembahan Rama dan Kraeng Galengsong dari Makassar itu, Mataram mengalami sandyakalanya.

https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5d741aba097f364cd81bab82/sultan-agung-lumpuhnya-giri-kedaton-dan-bubarnya-mdw?page=all

Resensi: Hitam Putih Majapahit

Melihat judul buku Hitam Putih Majapahit menjadikan pembaca untuk segera menuntaskan membaca hingga akhir. Kata “hitam putih” sedikit bisa menggambarkan sisi baik dan buruknya Majapahit. Selama ini sejarah memaparkan bahwa Majapahit adalah kerajaan besar di Nusantara. Berkat Gajah Mada, Majapahit mampu menyatukan Nusantara.

Di awal buku, pembaca diajak untuk mengetahui Sejarah Majapahit. Namun sudah dimulai dengan kalimat yang mematahkannya dengan mengungkapkan bahwa sejarah dirancukan dengan mitos (dongeng). Sehingga menimbulkan pertanyaan, “Benarkah Majapahit menyatukan Nusantara?”

Di atas merupakan sekelumit resensi Buku Hitam Putih Majapahit; dari Kejayaan hingga Keruntuhan yang ditulis oleh Ummi Azzura Wijana.

Selengkapnya….