[Untung Surapati] Budak, Cinta, dan Penjara

MEMBICARAKAN mengenai asal-usul Untung Surapati (Surawiraaji) tidak bisa dilepaskan dengan sejarah Bali. Sejarah dari suatu pulau di Indonesia yang terletak di sebelah timur pulau Jawa dan dikenal dengan Pulau Dewata. Dikatakan Pulau Dewata, dikarenakan sebagian besar penduduk pulau tersebut memeluk agama Hindu. Selain itu, pulau tersebut dikenal dengan keelokan alamnya.

Diketahui bahwa sebelum menjadi wilayah Indonesia, Bali semula berstatus sebagai kerajaan yang pernah mengalami masa kejayaan di bawah pemerintahan Dharmodayana pada abad ke-10. Di masa pemerintahan Dharmodayana itulah, Bali menjalin hubungan persahabatan dengan Medang (Jawa Timur) melalui perkawinan politik antara Udayana dan Mahendradatta (putri  Makuthawangsawardhana).

Paska pemerintahan Dharmodayana, Bali mengalami masa surut. Semasa pemerintahan Kertanagara (1254-1292), Bali merupakan jajahan Singhasari. Di masa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350), Bali menjadi wilayah kekuasaan Majapahit pada tahun 1343.

Semasa Bali dikuasai oleh Sri Kresna Kepakisan — raja vassal yang ditunjuk Tribhuwana — terjadi pemberontakan kaum Bali Aga. Akibat pemberontakan tersebut, Sri Kresna Kepakisan yang merupakan orang Bali Majapahit itu bermaksud menyerahkan tahta kekuasaan pada Tribhuwana. Sri Kresna Kepakisan tidak ingin melihat pertumpahan darah yang ditimbulkan perang antara orang Bali Aga dan orang Bali Majapahit.

Menanggapi ,maksud Sri Kresna Kepakisan yang akan menyerahkan tahta kekuasaan di Bali, Mahapatih Amangkubhumi Gajah Mada tidak sepakat. Karenanya Gajah Mada memberikan saran kepada Sri Kresna Kepakisan untuk merangkul kaum Bali Aga dengan memelajari budayanya.

Saran Gajah Mada itu diterima oleh Sri Kresna Kepakisan. Maka langkah-langkah yang harus Sri Kresna Kepakisan tempuh, yakni: pertama, melakukan sembahyang di pura Besakih yang dimuliakan kaum Aga. Kedua, mengadakan upacara kremasi untuk menghormati raja dan para bangsawan Bali yang gugur dalam invasi Majapahit. Ketiga, memuliakan mendiang para bangsawan Bali sebagai leluhur. Keempat, merekrut kaum Aga dalam pemerintahan.

Sejak Sri Kresna Kepakisan melaksanakan pendekatan politis dengan kaum Aga, Bali berangsur-angsur aman. Kaum Aga dan Kaum  Majapahit hidup dalam kerukunan hingga terjadilah pernikahan campuran dari kedua kaum tersebut. Persatuan dan kesejahteraaan warga Bali pun tercipta.

Semasa Majapahit jatuh di tangan Kesultanan Demak pada tahun 1527, Bali justru mencapai kejayaan. Dikarenakan imigran dari Jawa yang tidak mengakui kekuasaan Demak tersebut justru memerkaya ide dan seni budaya di Bali. Tokoh-tokoh dengan ide cemerlang kemudian bermunculan. Salah seorang dari mereka adalah Raja Dalem Waturenggong yang mengutamakan persatuan. Di masa pemerintahan Waturenggong yang diembani oleh Mahapatih Ularan (seorang Aga keturunan Ki Pasung Grigis), kekuasaan Bali meliputi Blambangan, Lombok, dan Sumbawa.

Paska pemerintahan Raja Dalem Waturenggong, Bali mengalami masa surut. Keturunan Waturenggong tidak cakap dalam mengelola pemerintahan. Akibatnya banyak daerah koloni melepaskan diri satu persatu. Hingga pada tahun 1639, Bali sempat diserang oleh Sultan Agung dari Mataram. Namun invasi dari Mataram itu berhasil dipukul mundur oleh Patih Jelantik Bogol di pantai Kuta.

Pada abad ke-17, Bali terpecah menjadi beberapa kerajaan. Kerajaan terbesar pecahan Bali adalah Buleleng. Suatu kerajaan dengan ibukota di Singaraja dan di bawah kekuasaan Ki Barak Panji Sakti (Patih Jelantik). Melalui Panji Sakti, serangan Mataram ke Bali berhsil dicegah. Bahkan melalui pasukan Truna Goak (pasukan gabungan Bali Aga, Jawa, Bugis); Panji Sakti berhasil melakukan invasi ke Blambangan.

Perkembangan selanjutnya, Mataram ingin berdamaik dengan Bali. Bukti niat baik Mataram itu dengan memberikan hadiah berupa kuda pada Panji Sakti. Tetapi, Panji Sakti yang hilang semangatnya untuk menjadi raja Buleleng sesudah putra kesayangannya gugur di medan perang itu lebih memilih turun tahta dan melanjutkan hidup sebagai pertapa. Paska pemerinthan Panji Sakti, kerajaan Mengwi dengan penguasa Anak Agung Putu mulai eksis. Semasa menjalankan pemerintahnya, Anak Agung Putu menjaling persahabatan dengan bangsawan-bangsawan Blambangan pro Bali.

Manakala VOC mulai menunjukkan kekuasaan di Jawa, Bali mulai berinteraksi dengan para pedagang Belanda. Bali pun kemudian pecah menjadi kerajaan-kerajaan yang saling bersaing secara militer. Akibatnya, perang tidak hanya terjadi antar kerajaan, namun antara kerajaan dengan desa yang kuat.

Untuk membeayai perang, raja-raja Bali mulai mengekspor budak dari orang-orang penunggak pajak, para pemberontak taklukkan, dan para prajurit musuh yang tertangkap. Sehingga pada waktu itu, Bali menjadi lumbung budak yang siap menyuplainya melalui orang-orang Bugis.

Karena berpengalaman di bidang militer, budak-budak dari Bali direkrut sebagai tentara kolonial dalam politik ekspansinya. Selain itu, budak-budak dari Bali sangat piawai memasak daging babi. Pada masa inilah, Untung dengan nama asli Surawiraaji itu menjadi salah seorang budak kecil yang dijual oleh raja Bali pada bangsa kolonial. Diperkirakan bahwa Untung menjadi budak karena turut menanggung Raden Panji Wanayasa ayahnya yang merupakan penunggak pajak, pemberontak, atau prajurit kalah perang.

Menjadi Budak

Disinggung di muka bahwa Untung Surapati menjadi budak semasih berusia tujuh tahun. Menurut sumber, Untung Surapat merupakan budak Pieter Cnoll.[1] Sesudah Pieter Cnoll meninggal, Untung dilimpahkan pada Cornelis Cnoll yang kejam dan bengis. Karena itulah, Untung yang sakit hati pada majikannya itu melarikan diri hingga menjadi buron VOC.

Menurut sumber yang lain bahwa Untung semula dijual oleh Kapten van Berber dari Makassar. Bila mengacu suatu pendapat bahwa orang-orang Bugis merupakan penyalur budak dari Bali pada bangsa kolonial, dimungkinkan van Berber membeli Untung dari orang Bugis. Oleh van Berber, Untung dijual kepada Kapten Edele Heer Moor di Batavia.

Pendapat bahwa Untung menjadi budak pada Kapten Moor dikisahkan di dalam Babad Tanah Jawa, pupuh Dhandhanggula 8, jilid 14, bagian 84, sebagai berikut:

Nenggih wonten winursita malih 

kapitan Emur ing Batawiyah  

adarbe tetukon rare  

lagya mur pitung taun  

duk tinumbas saking ing Bali  

pekik ing warnanira 

sira Kapitan Mur  

salaminira atumbas 

rare ika Kapitan untunge prapti  

dagang myang lungguhira[2] 

Bila mengacu pada Babad Tanah Jawa di muka, Kapten Moor membeli Untung tidak melalui Kapten van Berber, melainkan dibeli langsung dari Bali. Sesudah membeli budak Untung, Kapten Moor mengalami peningkatan keuntungan dalam berdagan dan naik jabatan sebagai Mayor, Komisaris, dan Edele Heer (kepala dagang dalam organisasi VOC). Pendapat ini sejalan dengan Babad Surapati yang telah diterjemahkan oleh Sudibjo Z.H. dan R. Soeparmo dalam Babad Trunajaja – Surapatai, sebagai berikut:

//… sejak membeli anak dari Bali (Untung) itu/kapten Moor makin banyak keuntungannya/ia adalah seorang pedagang besar di Betawi//Pangkatnya naik, ia menjadi mayor/dan tak lama kemudian komisaris/tak berapa lama sesudah itu bahkan/diangkat menjadi “Edele Heer” Moor…//.

Menyadari bahwa Untung merupakan budak yang dapat mendatangkan keuntungan kepada tuannya, maka Kapten Moor memberikan nama “Untung” pada budak kecilnya itu. Sejak itu, budak yang memiliki nama asli Surawiraaji dikenal dengan nama Untung.

Kisah Cinta Untung 

Dikarenakan mendatangkan keuntungan baik dalam usaha dagang dan kedudukannya, Kapten Edele Heer Moor semakin menyayangi Untung. Sehingga Untung tidak lagi dianggap oleh Moor sebagai budak, melainkan anak emas. Karenanya, Moor memberikan kepercayaan pada Untuk untuk menemani putrinya yang bernama Suzanne.

Seringnya bertemu, hubungan antara Untung dan Suzanne semakin hari semakin akrab. Mereka seperti saudara seayah seibu. Mereka saling menyayangi dan sdaling mengasihi. Sehingga ketika berusia dewasa, mereka saling mencintai sebagai sepasang kekasih.

Bagi Suzanne, Untung adalah pria satu-satunya yang telah mencuri hatinya. Selain tampan, Untung memiliki sifat dermawan. Sebab itu, Suzanne selalu memberikan barang berharga yang diminta Untung. Namun barang itu tidak Untung simpan dan dimiliki sendiri, melainkan dibagi-bagikan kepada 80 budak kolonial yang berasal dari Bugis dan Bali.

Mengetahui Untung membagibagikan barang-barang berharga dari Suzanne putrinya, Moor marah bukan kepalang. Menurut Babad Tanah Jawa, kemarahan Moor itu dilampiaskan dengan mencambuki Untung  dengan rotan. Hingga Untung merasa sakit setengah mati. Berikut Babad Tanah Jawa dalam pupuh Dhandhanggula 14, Jilid 14, bagian 84:

Idler Emur mangkana winarni 

wruh lamun donyanirakeh ilang 

lami dhenger yen anake 

kirda lawan Si Untung 

anguleri donyanireki  

pan anakira nyonyah 

kecil solahipun 

kawedhar tan mawi sandya 

gya cinekel Ki Untung den jamalani 

ngrotan satngah pejah[3]

Menyaksikan penderitaan Untung yang luar biasa saat dicambuk, Moor tidak tega. Sebab itu, Moor mengampuni Untung. Tetapi sesudah Untung berani memasuki gedung bersama Suzzane, menurut penafsiran mereka melakukan hubungan suami istri, Untung ditangkap dan dijebloskan di dalam penjara. Sementara Suzanne dikembalikan ke negeri Belanda.

Tetapi pendapat yang disampaikan dalam Babad Tanah Jawa dan Babad Surapati tersebut ditentang oleh teori yang menyebutkan bahwa Suzaane diasingkan di Teluk Jakarta. Di sana, Suzaane yang melahirkan anak dari benih Untung. Anak itu diberi nama Robert.

Sungguhpun demikian, baik pendapat dalam Babad Tanah Jawa dan Babad Surapati maupun teori lain yang menyebutkan mengenai Suzane sesudah dijebloskannya Untuk di dalam penjara oleh Moor tersebut perlu dikaji ulang. Mengingat kisah tersebut bersumber dari karya fiksi dan asumsi yang dibumbui unsur politis dari pihak kolonial.

Dijebloskan di Dalam Penjara

Akibat hubungan cintanya dengan Suzanne, Untung dijebloskan penjara oleh Kapten Moor. Sewaktu di dalam penjara, Untung bertemu dengan budak-budak kolonial. Menurut Babad Tanah Jawa dan Babad Surapati, jumlah budak yang dipenjara oleh VOC tersebut tidak kurang dari 60 orang.

Di dalam penjara tersebut, Untung menagawarkan gagasan pada pada para budak untuk melarikan diri dan melakukan perlawanan terhadap VOC. Awal mula gagasan itu ditolak oleh sebagian banyak budak. Mengingat mereka sudah berusia tua dan tubuh mereka teramat lemah karrena jarang diberi makan. Namun, Untung terus membakar semangat mereka untuk keluar dari penjara sebagai bentuk perlawanan dengan VOC. Berikut kutipan dalam Babad Surapati yang mengisahkan sejak Untung di dalam dan keluar dari penjara:

Setelah agak lama disekap dalam penjara, Untung berkata kepada teman-temannya senasib: “Saudara-saudaraku semuanya, sayang kita di sini tak banyak berdaya, tidak ada yang mempunyai akal untuk melarikan diri, karena kalian semuanya sakit.”

Teman-temannya menjawab: “Hai Untung, sangat tidak masuk akal, mau melawan lepas dari pasungan besi ini, dan penjara pun tertutup rapat. Pintu-pintu dikunci, dijaga para kumpeni, lalu bagaimana akal budimu?”

Untung menjawab pelan-pelan tetapi tenang: “Begini! Jika kita mendapat pertolongan dari Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa, kita dapat lolos dari penjara ini. Sebab kekuatan makhlukNya tergantung dari belas kasih Yang Maha Penyayang lagi Pengasih.”

Salah satu temannya lalu berkata lagi: “Untung, engkau ini sangat tamak, kami ini banyak yang sudah tua-tua. Dalam penjara dan pasungan ini saya sendiri sudah tiga bulan lamanya, dan selama itu jarang diberi makan. Bagaimana pun saya tak mendapat akal untuk lolos. Dan engkau yang masih muda belia, berusahalah sekuat tenaga mudamu, berdaya-upayalah sebanyak-banyaknya. Mungkin engkau dapat menemkan akal budi, lepas dari pasungan besi kuat ini. Kalau dapat, benar-benar engkau orang jantan.”

Untung menjawab sambil bersenyum: “Aku tidak bicara dengan orang tua seperti kamu ini; yang kupikirkan ialah orang banyak ini,maka terserahlah menurut kehendak hatimu, sebab agaknya kamu ini tidak mengetahui.”

Untung berbicara dengan kata pelan-pelan kepada teman-teman senasib yang banyak itu: “Saudara-saudara senasib dan sepenanggungan. Jika kiranya di antara saudara-saudara ada yang dapat melepaskan kita dari belenggu ini, itulah yang kita inginkan semuanya!”

Orang banyak itu semuanya menjawab: “Untung, andaikata kamu ini dapat lepas karena akal budi dan daya-upayamu, lalu apa yang menjadi kehendakmu. Meskipun lepas dari kurungan besi ini, tak urungya masih ada pasungan ini.”

Untung menjawab sambil tertawa, dengan mengurut-urut seluruh tubuhnya, dan lepaslah ia dari belenggu pasungan besi itu. Terheran-heranlah semua yang melihat. Belenggu keenam puluh orang tahanan, kemudian dilepas dan semuanya telah bebas. Hanya seorang yang masih terbelenggu, yaitu orang tua yang mengejek tadi.  Maka semuanya yang kini telah lepas, bersama-sama mengucapkan terima kasih mereka kepada Untung.

Catatan Penting

Dari uraian di muka, gambaran mengenai Untung Surapati dari masa awal kehidupan sampai dipenjarakan oleh Kapten Moor dapat diketahui secara jelas. Di mana Untung merupakan seorang anak yang menjadi budak keluarga Pieter Cnoll dan berlanjut menjadi budak pada Cornelis Cnoll (versi pertama) atau Kapten Moor (versi kedua) sejak berusia 7 tahun.

Dikarenakan keberadaannya membawa keberuntungan dalam berdagang dan peningkatan pangkat bagi Kapten Moor, Untung diangkat sebagai anak. Sejak itu, nasib Untung lebih baik ketimbang budak-budak lainnya. bahkan Untung diminta oleh Kapten Moor untuk menemani putrinya yakni Suzanne. Tetapi hubungan cintanya dengan Suzanne, Untung dijebloskan ke dalam penjara.

Sejak menjadi penghuni hotel prodeo, Untung berusaha untuk bebas dan melawan VOC. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Untung melawan VOC bukan karena kesadarannya sebagai bangsa terjajah, melainkan karena ingin terbebas dari dalam penjara. Mengingat sewaktu hidup dengan banyak kemudahan ketika menjadi anak angkat Kapten Moor, Untung tidak berniat untuk melakukan pemberontakan terhadap VOC.

Sungguhpun demikian, perhatian Untung terhadap para budak pribumi sangat tinggi. Terbukti, harta benda yang diberikan oleh Suzaane kepada dirinya dibagi-bagikan kepada para budak yang hidup dalam penderitaan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Untung memiliki sifat dermawan kepada wong cilik, namun belum memiliki kesadaran untuk memerjuangkan kemerdekaan nasib bangsa nusantara yang hidup dalam tekanan VOC. [Sri Wintala Achmad]

[1] Pieter Cnoll merupakan kepala pedagang dalam organisasi VOC di Batavia.

[2] Terjemahan Babad Tanah Jawa, pupuh Dhandhanggula 8, jilid 14, bagian 84, sebagai berikut: //Terdapat suatu kisah lagi/Kapten Emur (Moor) di Batavia/memiliki budak belian/baru berusia tujuh tahun/ketika dibeli dari Bali/tampan wajahnya/dialah Kapten Mur/selama membeli/budak itu mendatangkan keberuntungan/dalam berdagang dan kedudukan//.

[3] Terjemahan Babad Tanah Jawa, pupuh Dhandhanggula 14, jilid 14, bagian 84, sebagai berikut: //Idler Emur (Edele HeerMoor) dikisahkan kemudian/mengetahui kalau harta bendanya banyak yang hilang/lama mendengar kalau putrinya/mencintai si Untung/yang menggerogoti harta mendanya/dan putrinya (Suzanne)/perbuatannya (memberi barang-berang berharga pada Untung) diconanginya/segeralah ditangkap Untung dan disiksa dengan rotan (hingga sakitnya) setengah mati//.

https://www.kompasiana.com/achmadeswa/5d6d78c5097f366d2c0544c3/untung-surapati-budak-cinta-dan-penjara?page=all